Tahu dan Mie Berformalin Dijual Bebas

Suasana kegiatan sosialisasi BPOM Lubuklinggau tentang penyalahgunaan bahan berbahaya pada pangan kepada pedagang dan konsumen, di SMart Hotel, Rabu (13/2). Foto maryati /palpos.id

LUBUKLINGGAU – Hati-hati, ternyata lebih dari 80 persen tahu dan mie yang beredar di dua pasar tradisional di Lubuklinggau (Inpres dan Bukit Sulap) mengandung formalin. Hal itu terungkap dalam sosialisasi tentang penyalahgunaan bahan berbahaya pada pangan kepada pedagang dan konsumen, di SMart Hotel, Rabu (13/2).

Kepala Kantor Badan POM Lubuklinggau, Afdil Kurnia, mengatakan bahwa selama melakukan pengawasan dengan menurunkan tim dan mobil lab keliling ke dua titik pasar tradisional di Lubuklinggau, pihaknya menemukan banyak tahu dan mie yang mengandung formalin.

“Pertama kali kami turun bulan September mengambil sampel tahu dan mie dari dua pasar itu,  hasilnya dari 12 pedagang hanya dua yang tidak pakai formalin,” kata Afdil
Kemudian pada Oktober, POM Lubuklinggau kembali turun ke dua pasar tersebut. Dari 12 sampel tahu dan mie yang diambil dari pedagang yang sama, hasilnya tetap tidak ada perubahan (berformalin). Menariknya hanya dua pedagang yang tidak menggunakan formalin dan pedagangnya yang itu-itu saja.

“Boleh dikatakan 90 persen mie basah yang dijual di kedua pasar itu positif mengandung formalin dan untuk 80 persen tahu juga positif mengandung formalin,” terang Afdil.

Dikatakan Afdil, untuk meminimalisir meluasnya penggunaan formalin, BPOM Lubuklinggau, mengundang puluhan produsen dan konsumsen mie dan tahu dari Pasar Inpres dan Pasar Bukit Sulap. Mereka diberikan pengarahan bahaya formalin dalam jangka panjang. “Mungkin selama ini kita merasa aman saja, tapi ketika tahu ternyata formalin bahaya sekali,” terangnya.

Selain itu, tambahnya, para pedagang dan produsen juga diberikan informasi tentang Patala sebagai alternatif pengganti formalin. Karena Patala merupakan bahan pengawet alternatif lebih aman karena terbuat dari ekstrak pisang, sedangkan formalin mengandung bahan berbahaya dan dapat menyebabkan penyakit ditubuh manusia.
“Diharapkan, setelah ini tidak ada lagi produsen yang memproduksi tahu atau mie atau produk lain yang mengandung formalin,” katanya.

Sebaliknya, bila dalam pengawasan pihaknya ternyata hasilnya tidak ada perubahan, mau tidak mau pihaknya akan lebih fokus ke penindakan. Tetapi bila ada perubahan di dua pasar ini, pedagang tidak menjual tahu dan mie berformalin lagi, akan ada apresiasi. “BPOM akan memberikan standing banner bahwa pedagang ini menjual tahu dan mie tidak mengandung formalin,” ujarnya.

Dengan begitu, tambah Afdil, maka pedagang yang masih menjual produk berformalin akan tersingkir dengan sendirinya. “Masyarakat pasti pilih yang tidak berformalin,” katanya.

Setelah langkah itu diambil, ternyata masih juga ditemukan pedagang dan produsen menjual bahan berformalin, dipastikan pihaknya mengambil langkah penindakan. “Kita akan melakukan kerjasama dengan kepolosian,” pungkasnya. (yat)