Pemilu 2019 Bukan Cuma Pilpres

JAKARTA, PALPOS.ID – Pesta Demokrasi Indonesia melalui Pemilihan Umum yang akan berlangsung pada April 2019 mendatang dinilai sejumlah kalangan masyarakat hanya memilih Presiden dan Wakil Presiden dan hanya sedikit yang mengetahui untuk memilih wakilnya untuk bisa duduk di kursi parlemen, baik tingkat kota/kabupaten, provinsi sampai pusat.

“Konsentrasi publik Pemilu 2019 dinilai masih tertuju pada pemilihan presiden (Pilpres). Baru separuh publik yang tahu ada pemilihan legislatif (Pileg) akan digelar serentak dengan pilpres,” kata Peneliti Senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Aji Al Farabi, dalam diskusi, di Jakarta, Sabtu (23/2).

Lanjut Aji mengemukakan, dalam survei yang dilakukan pihaknya di dapil (daerah pemilihan) terkait kinerja KPU (Komisi Pemilihan Umum) ternyata hampir di bawah 50 persen masyarakat hanya mengetahui pada april mendatang untuk memilih presiden ketimbang legislatornya.

“Informasi yang minim mengenai mekanisme jalannya pemilu serentak ini pun membingungkan pemilih.Ada problem sosialisasi. Sampai saat ini di bawah 50 persen pemilih yang tahu soal tanggal pemilihan,” ujar Aji.

Di sisi lain, pembahasan publik dan pemberitaan sehari-hari di media saat ini didominasi soal pilpres. Para calon anggota legislatif (caleg) seolah lupa mereka harus memperjuangkan dan mengkampanyekan partainya, bukan sekadar kampanye calon presiden yang mereka usung.

Tersandera Pilpres

Hal senada juga diungkapkan Pengamat Politik Emrus Sihombing. Ia menilai jika masyarakat hanya tersandera dengan pemilihan presiden. Padahal ada caleg DPRD, DPR RI dan DPD yang nantinya dipilih.

Para caleg dinilai Emrus, masih sangat minim dalam berkampanye di media massa. “Mereka (masyarakat) hanya terfokus kepada pilpres. Padahal, mereka seharisnya kampanye mempromosikan diri agar dipilih rakyat,” kata Emrus.

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Emrus Corner ini menambahkan, publik semestinya diberi ruang untuk mengetahui siapa saja yang maju mencalonkan diri dalam Pemilu 2019.

“Jangan cuma capres dan cawapres. Ada banyak caleg yang maju. Sebagian masyarakat hanya tahu dari alat peraga kampanye yang dipasang di sejumlah titik,” tandasnya.

KPU membantah

Namun hal tersebut dibantah oleh KPU) dengan mengklaim telah melakukansosialisasi terkait pemilu 2019 hingga ke wilayah terkecil.

Menurut Komisioner KPU Wahyu Setiawan, mayoritas warga telah memahami bahwa hari pemungutan suara digelar 17 April 2019.

Masyarakat umumnya juga telah mengetahui, bahwa pemilu serentak digelar untuk memilih presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dan DPD.

“Mereka sudah disosialisasikan. Warga RT, dasa wisma, forum-forum marga lain sudah kita garap itu. Dan jangan lupa kita sosialisasi door to door saat pemutakhiran data pemilih,” kata Wahyu di Jakarta.

Selain itu, KPU juga mempunyai Petugas Pemilihan Kecamatan (PPK) di tingkat kecamatan dan Petugas Pemungutan Suara (PPS) di tingkat kelurahan. Mereka juga diberi tugas untuk memberi sosialisasi ke pemilih.

“Nanti ujungnya kan ada (formulir) C6, undangan (memilih di TPS), kan harus disampaikan ke rumah. Lha dalam mengundang petugas juga memberika sosialisasi itu,” ujar Wahyu.

Selain sosialisasi melalui petugas wilayah, tiga minggu sebelum hari pemungutan suara KPU akan bekerjasama dengan forum keagamaan seluruh agama untuk ikut melakukan sosialisasi.

Mereka nantinya akan sosialisasi di berbagai forum seperti sholat Jumat atau ibadah di gereja.

Belum lagi kita juga bermitra dengan NU, Muhammadiyah, KWI, dengan pengurus-pengurus keagamaan untuk sosialisasi. Jadi semua kita garap,” tandas Wahyu. (fin/khf)