Menyesal dan Ngaku Sayang setelah Istri Tiada

Kapolres Lubuk Linggau AKBP Dwi Hartono mengintrogasi tersangka Sudirman dalam gelar perkara ungkap kasus, kemarin. Foto: ist

MURA, PALPOS.ID – Menyesal memang selalu datang belakangan. Setidaknya dirasakan Sudirman (36), oknum guru honorer di Desa Karang Panggung, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas (Mura), yang tega menikam istrinya sendiri, Rozalina (36), guru SMP Negeri 12 di Kelurahan Petanang, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau.

“Saya menyesal, Pak. Saya sayang dan cinta sama istri saya,” kata Sudirman, di hadapan Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono, sambil berurai air mata, saat pers release, Senin (11/03).

Menurut Sudirman, dia tega menikam istrinya berkali-kali lantaran khilaf. Untuk itu dia meminta maaf kepada keluarga korban. “Saya minta maaf kepada keluarga korban (Rozalia). Gara-gara ini masa depan saya hancur,” katanya sambil mengusap air matanya.

Diceritakan Sudirman, kronologis penikaman berawal ketika korban meminta jatah uang belanja kepada dirinya. Tetapi karena belum gajian, tersangka belum bisa memenuhi permintaan korban. Hal itu memicu pertengkaran antara dirinya dan korban.

Dalam pertengkaran itu, akhirnya tersangka mengajak korban untuk bercerai. Ajakan cerai itu dijawab korban dengan usiran dari rumah. Tersangka kemudian pergi dari rumah. Selang beberapa waktu kemudian, korban mengirimkan pesan singkat melalui Short Mesage Service (SMS) dengan kata-kata kasar hingga melukai perasaan tersangka.

Menerima SMS itu, tersangka kembali pulang ke rumah dan meminta korban untuk membuat surat pernyataan setuju untuk bercerai. Tetapi, korban kembali mengusir tersangka.

Saat tersangka akan membalikan badan, tiba-tiba korban yang tengah berbaring di tempat tidurnya melayangkan tendangan ke pundak kanan tersangka. Pada saat bersamaan tersangka melihat korban memegang pisau yang masih ada di dalam sarung/kerangkanya.

Menerima perlakuan korban, tersangka naik pitam dan langsung merampas pisau yang ada di tangan tersangka. Seketika dua kali tikaman langsung dihujamkan tersangka ke perut korban. Tidak cukup sampai di situ, bak orang yang sudah kesetanan, dua kali tikaman kembali dihujamkan tersangka.

Masing-masing mengenai bawa ketiak kanan korban dan tangan kanan korban. Melihat korban sudah bersimbah darah. Tersangka kemudian langsung kabur.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Dwi Hartono, menjelaskan pasca kejadian, sebagian anggotanya langsung turun ke lokasi kejadian untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sedangkan sebagian anggota yang lain, mengejar tersangka. “Dicari di mana saja keluarganya, sampai ke Terawas,” jelas Dwi.

Namun pencarian tersangka sempat tidak membuahkan hasil. Tetapi, dari daftar keluarga tersangka, ada beberapa nama yang dikenal oleh kapolres.

“Saya hubungi keluarganya, tolong serahkan baik-baik tersangka kepada saya,” ujar Dwi.
Rupanya, lanjut Dwi, dalam pelariannya tersangka sempat meminum racun serangga. “Dia meneguk racun serangga tiga tutup botol apa tiga botol ya, saya lupa, nanti saya tanya lagi,” kata Dwi.

Keberadaan dan tindakan tersangka itu diakui Dwi sempat luput dari pantauan pihaknya. Tersangka bahkan sempat dibawa keluarganya berobat ke Rumah Sakit (RS) Siti Aisyah.
Namun, lanjut Dwi, tidak berapa lama dirinya usai menghubungi pihak keluarga tersangka, dirinya menerima telepon balik dari keluarga tersangka.

“Saya diberitahu keluarganya, pukul 20.00 WIB tersangka akan datang menyerahkan diri,” ujar mantan Kapolres Pagar Alam ini.

Menerima informasi itu, dikatakan Dwi, dirinya yang saat itu sedang ada diluar kantor, sekitar pukul 19.45 WIB, sudah kembali lagi ke ruangannya.

“Sekitar pukul 19.45 WIB, saya sudah tunggu diruangan saya, benar saja pukul 20.00 WIB, tersangka datang diantar keluarganya dan saya sendiri yang menerima penyerahan tersangka,” jelas Dwi.

Dikatakan Dwi, selain sudah mengamankan tersangka, pihaknya juga telah mengamankan Barang Bukti (BB) berupa pisau yang digunakan tersangka, baju kaos yang dikenakan korban saat kejadian, serta buku nikah yang menyatakan tersangka dan korban memang sah suami istri.

Sementara tersangka, menurut Dwi, atas perbuatannya yang melakukan Kekerasan Dalam rumah Tangga (KDRT) yang mengakibatkan korban meninggal dijerat dengan pasal 44 (3) UU 23/2004 tentang penghapusan KDRT dengan ancaman 15 tahun penjarah.

Sementara itu, seperti yang diketahui sebelumnya Rozalina (36), seorang guru SMP Negeri 12 Petanang, tewas ditangan sendiri Sudirman (36), Guru honorer yang juga Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kenanga.

Pembunuhan yang menghebohkan warga sekitar, terjadi di kediaman pasangan suami istri (pasutri) tersebut yang berlokasi di Jalan Mangga Besar II, RT 01, Kelurahan Kenanga, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau, Rabu (6/3), sekitar pukul 14.30 WIB. (mar)