Diskusi bertajuk "4,5 Tahun Curhatan Pelaku Usaha foto FIN

JAKARTA,PALPOS.ID  – Menggeliatnya perusahaan-perusahaan start up di Tanah Air membuat resah para pengusaha di sektor riil. Mereka menilai pemerintah terlalu membanggakan e-commerce ketimbang bisnis di bidang properti.

“Jutaan miliar dolar masuk ke Indonesia ke start up, tapi kita tahu itu hanya bakar uang tapi sebenarnya seperti Gojek, Bukalapak itu semuanya rugi. Meski begitu kita bersyukur mereka bisa besar di ASEAN bahkan Asia, tapi kita butuh riil sektor yang bergerak,” kata Ketua Gabungan pengembang Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta, Amran Nukman dalam acara Diskusi bertajuk “4,5 Tahun Curhatan Pelaku Usaha: Realita dan Derita Pengusaha Kecil Sampai Besar” di Hotel Century Park, Jakarta, Senin (8/4/2019).

Dan yang disesalkan Amran, adalah pembatalan pajak e-commerce, sehingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ada di e-commerce tidak terserap.

Amran mengakui pertumbuhan ekonomi memang terjadi. Namun yang sangat disayangkan adalah pertumbuhan ekonomi bukan pada sektor riil, namun hanya pada e-commerce.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryani Motik menilai pemerintah kebijakan pemerintah terlalu condong pada BUMN, sehingga para pengusaha swasta menjadi lesu. Dengan demikian, bisa ‘membunuh’ secara perlahan para pengusaha swasta.

“Yang kita lihat yang menggeliat BUMN, karena sinergi BUMN yang kebablasan. Sinergi BUMN mendirikan anak cucu perusahaan, sehingga yang tadinya pengusaha swasta bisa supply (sekarang tidak),” kata Suryani.

Lanjut Suryani, kecendrungan pemerintah yang terlalu membanggakan e-commerce juga membuat lapangan pekerjaan menjadi berkurang.

“Toko-toko pada sepi, pindah ke e-commerce. Kita memaklumi e-commerce, tapi sektor rill itu menciptakan lapangan pekerjaan lebih besar,” ucap dia. (fan/ibl/din/fin)