Desak KPK Seret Nusron Wahid

400 ribu amplop dari puluhan kardus yang diamankan KPK, foto : FIN

JAKARTA,PALPOS.ID – Politikus Golkar yang juga tersangka serangan fajar Pemilu 2019 Bowo Sidik Pangarso, mengaku semua perbuatannya dilakukan atas perintah Nusron Wahid,.

“Saya diminta oleh partai untuk menyiapkan 400 ribu [amplop]. Nusron wahid meminta saya untuk menyiapkannya,” kata Bowo, Selasa (9/4) lalu.

Kicauan Bowo yang kini resmi jadi tersangka kasus suap telah dibantah oleh Nusron sendiri.

Namun bagi Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman hal ini menjadi dorongan bagi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali diuji keberanian untuk mengungkap kasus tindak pidana korupsi.

Boyamin meminta penyidik KPK untuk berani mengembangkan pengakuan tersangka Bowo.

“Ini perlu dikembangkan , jangan berburuk sangka terlebih dahulu, pengakuan ini bisa dijadikan dasar KPK untuk memeriksa Nusron Wahid,” katanya kepada Fajar Indonesia Network di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Pemeriksaan Nusron Wahid, kata Boyamin, nanti lebih kepada meminta klarifikasi atas pengakuan tersangka Bowo apakah benar 400 ribu amplop murni atas perintahnya untuk serangan fajar pada hari pencoblosan.

Pasalnya jika KPK tidak melakukan klarifikasi maka akan menjadi pertanyaan publik.

“Ingat kiacuan Nazaruddin, awalnya dicuekin KPK tapi kenyataannya apa, ada benarnya juga kan soal eKTP, jadi jangan dianggap sepele pernyataan tersangka diluar dari pemeriksaan penyidik,” jelasnya.

Menurut Boyamin, masyarakat sedang menunggu keberanian penyidik KPK untuk memeriksa Nusron Wahid. Menurutnya, KPK harus mengambil sikap tegas dalam penegakan hukum.

“Jangan liat kekuatan politik, siapapun sama di mata hukum, mau presiden sekali pun sama di mata hukum,” tutupnya.

Diketahui, usai menjalani pemeriksaan di KPK, Selasa (09/04/2019) lalu, tersangka Bowo mengaku bahwa amplop yang disiapkan atas perintah Nusron Wahid.

“Diminta oleh Nusron Wahid untuk menyiapkan itu,” singkatnya saat ditanya awak media massa.

Bowo ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga menerima suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti melalui Indung terkait pelaksanaan kerja sama pengangkutan di bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT HTK. (fan/lan/fin/tgr)