Berkas P21, Jokdri Dikirim ke Rutan Salemba

Joko Diryono (Jokodri) mendekam di Rutan Salema

JAKARTA, PALPOS.ID – Tersangka kasus dugaan perusakan barang bukti pengaturan skor sepakbola Indonesia, Joko Driyono (Jokdri) akhirnya diserahkan ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Penyerahan ini dilakukan Tim Satgas Antimafia Bola setelah berkas perkara Mantan Plt Ketua Umum PSSI itu dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) alias P21 pada Kamis (4/4) lalu.

Jokdri keluar dari ruangan penyidik di lantai dua Ditreskrimum Polda Metro Jaya dengan pakaian tahanan berwarna oranye dan tangan terborgol. Pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur itu diam seribu bahasa saat menuju mobil tahanan. Selain tersangka, penyerahan dilakukan bersama dengan barang bukti perkara. Kasus itu akan disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Selain tersangka, kami juga menyerahkan barang bukti. Seperti dokumen, mobil, laptop, pemotong kertas dan sebagainya. Itu sudah tercantum ada di kotak itu sudah kita lakban itu juga akan dibawa,” kata Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Polri, Kombes Argo Yuwono dalam konferensi pers di Aula Mapolda Metro Jaya, Jakarta,

Dalam konferensi pers kemarin, tim penyidik juga memamerkan barang bukti terkait kasus itu.

Sementara, tim jaksa penuntut umum (JPU) pada Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) tengah membuat surat dakwaan PSSI Joko Driyono. Surat itu dibuat usai menerima pelimpahan barang bukti dan tersangka tahap dua dari Satuan Tugas Anti Mafia Bola Mabes Polri.

“Saat ini JPU sedang menyusun surat dakwaan untuk sesegera dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum) Kejaksaan Agung, Mukri di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (12/4).

Dijelaskanya, Jokdri terjerat kasus perusakan barang bukti dalam perkara dugaan pengaturan skor disangkakan melanggar Pasal 363 ke-3e dan 4e KUHP atau Pasal 235 KUHP atau Pasal 233 KUHP atau Pasal 232 KUHP atau Pasal 221 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Saat ini tersangka dilakukan penahanan oleh tim jaksa penuntut umum di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri selama 20 hari kedepanberdasarkan surat perintah penahanan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Nomor: B-68/O.1.14.3/Euh.2/04/2019 tanggal 12 April 2019, tandasnya.

Sementara dalam kasus dugaan pengaturan skor pertandingan sepak bola di Indonesia, kuasa hukum pelapora korban mafia sepak bola, Lasmi Indaryani, Boyamin Saiman mengaku tengah menyusun strategi khusus untuk membongkar siapapun pihak yang hingga kini belum tersentuh oleh penyidik Satgas Anti Mafia Bola Mabes Polri.

Dia menjelaskan kliennya yang akan menjadi saksi dalam persidangan akan mengungkapkan atau membongkar tuntas kasus mafia bola yang kini mulai terkuak ke masyarakat. “Nanti akan dibuka semua dalam persidangan , ada strateginya, kita bongkar semuanya nanti,” katanya kepada FIN.

Menurutnya, dengan ada perlindungan saksi yang diberikan LPSK terhadap kliennya maka menimbulkan keberanian dari kliennya untuk mengungkapkan apa yang diketahuinya dalam mafia sepak bola di tanah air. ” Sekarang sudah dalam perlindungan LPSK, jadi secara nyata ada perlindungan, tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak enam tersangka kasus pengaturan skor sepakbola Indonesia ke Kejari Banjarnegara, Jawa Tengah.Penyerahan dilakukan setelah enam tersangka dalam kasus pengaturan skor sepak bola Indonesia dari laporan mantan Manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indrayani dinyatakan P21 atau lengkap.

Keenam tersangka yang diserahkan adalah adalah anggota Exco PSSI dan Ketua Asprov Jawa Tengah Tjan Ling Eng alias Johar; mantan anggota Komite Wasit Priyanto dan anaknya, Anik Yuni Artika Sari; anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih; Direktur Penugasan Wasit PSSI Mansyur Lestaluhu; serta wasit pertandingan Nurul Safarid. (mhf/lan/fin/tgr)