Palestina Kembali Terancam

Pemuda Palestin membakar ban sebagai wujud protes atas kebijakan Israel

TEL AVIV, PALPOS.ID – Kembalinya Benjamin Netanyahu memenangkan Pemilihan umum Israel, dinilai bakal menyuramkan masa depan Palestina. Melihat rekam jejaknya, pemerintahan sayap kanan yang dipimpinnya tersebut kurang menunjukkan itikad menciptakan perdamaian di antara Palestina dan Israel.

Terlebih, dalam setiap kampanye yang dilakukannya, Netanyahu kerap berjanji setiap wilayah permukiman warga Israel yang ilegal akan dianeksasi.

Sejumlah analis meyakini, naiknya Netanyahu akan membuat Israel kian menindas Palestina. Dominasi itu dinilai semakin dalam bagi setiap warga Palestina sehari-hari.

Kemudian, aneksasi atas wilayah Tepi Barat yang akan dilakukan lebih gencar, meski selama ini hal itu juga telah terjadi secara bertahap.

Kampanye pemilu Israel 2019 terlihat penuh dengan sikap anti-Palestina, dengan kecendrungan wacana politik yang bergerak lebih jauh ke arah kanan. Di antaranya dari sikap Benny Gantz, pemimpin Partai Biru-Putih.

Dalam sejumlah video kampanye, Gantz membanggakan jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza selama serangan militer Israel pada 2014.

Pada hari pemilihan berlangsung, warga Palestina juga mendapat tekanan dengan hadirnya 1.200 aktivis dari partai Netanyahu, Likud. Mereka membawa kamera di pusat pemungutan suara di lingkungan yang didominasi warga Palestina, tampaknya berupaya mengintimidasi pemilih di sana.

Namun, Netanyahu membantah hal itu dan mengatakan kamera dipasang untuk mengawasi jalannya pemilihan secara bebas dan adil. Dengan jumlah suara yang dihitung secara keseluruhan, nampaknya hanya akan ada 10 dari 120 anggota parlemen Israel dari partai-partai politik yang mayoritas anggotanya Arab mendukung kesetaraan bagi Palestina.

Netanyahu dikatakan, akan melanjutkan kebijakan apartheid terhadap Palestina, serta kolonisasi dan rasisme yang seluruhnya merupakan bentuk penindasan.

Apapun langkah yang diambil olehnya, bertujuan untuk membuat warga Palestina tak dapat bertahan hidup di tanah air mereka sendiri, yang dijajah oleh Israel sejak 1948. (der/rts/fin)