Jakub Skrzypski, foto the japan times

PAPUA,PALPOS.ID  – Pengadilan Negeri Wamena, Papua menjatuhkan hukuman penjara lima tahun kepada warga Polandia, Jakub Skrzypski, pada Kamis (2/5).

Dia terbukti merencanakan makar dan terlibat gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pada 26 Agustus lalu, Skrzypski di Wamena bertemu dengan aktivis sekaligus mahasiswa Papua, Simon Magal.

Skrzypski berhasil berkomunikasi dengan Simon melalui Facebook sebelum bertemu empat mata.

Simon juga divonis empat tahun penjara dalam persidangan yang sama dengan Skrzypski. Skrzypski dituduh mendukung dan melibatkan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Polri menuding, Skrzypski telah meminta informasi dan strategi tentang perjuangan memerdekakan diri untuk para pemberontak tersebut. Berdasarkan dokumen dakwaan, Skrzypski dijerat atas dugaan makar dan bergabung dengan organisasi pemberontak.

Jaksa menuduh Skrzypski pernah bertemu dengan pemimpin OPM, Beni Wenda. Aparat juga menyita sejumlah dokumen dan rekaman video yang berisikan perjuangan rakyat Papua untuk merdeka. Penyelesaian sidang Skrzypski dan tiga warga Indonesia lainnya digelar Wamena.

Dia dan rekannya juga menuduh pengadaan senjata dari Polandia. Polisi juga menemukan 130 butir amunisi yang dikumpulkan  Skrzypski dan tiga WNI tersebut.

Selain itu, Skrzypski disebut mendokumentasikan dan menyiarkan kegiatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) melalui media sosial sekaligus memberikan bantuan logistik.

Dia disebut, mengangkat tema melanggar Hak Asasi manusia (HAM) dalam dokumentasinya sebagai tindakan petugas kepolisian dan tentara yang mewakili terhadap KKB. Skrzypski menerima tawaran dokumentasinya kepada media asing lewat akun media sosialnya.

Polisi melanjutkan hubungan Skrzypski dan KKB telah berlangsung intensif. Penyebab dia diambil telah berkali-kali masuk ke Papua dengan menggunakan visa turis sejak Juli 2018.

Dikutip Associated Press, salah satu yang berwenang hukum Skrzypski, Latifah Anum Siregar menuturkan, kliennya membantah segala macam bantuan tersebut dan merencanakan banding terhadap vonisnya hari ini.

Mengenai kerabatnya yang tinggal di Swiss mengatakan, Skrzypski seorang yang suka berpergian dan memiliki ketertarikan dengan budaya lain.

Teman-teman Skrzypski menganggap, dia tidak sadar melakukan hal yang berkaitan dengan politik Indonesia lantaran hobinya tersebut.

“Kasus ini murni politis di mana proses hukum berjalan sebagai alasan propaganda. Proses persidangannya tidak adil lantaran berlangsung di Wamena, wilayah yang ia anggap pulih, sehingga membuat pengacaranya sulit mewakilinya dengan maksimal,” pungkasnya. (fan/der/fin)