Firasat Itu Ternyata Sebuah Pertanda

Jupriyadi, kakak kandung almarhum menerima kunjungan Bupati Banyuasin H Askolani di rumah duka, kemarin. Foto: Jauhari/HB)

Korban Dikenal Penyayang Keluarga

BANYUASIN, PALPOS.ID– Selisih paham  berujung perkelahian akhirnya menewaskan dua korban. Keduanya yakni Supendi (38) dan Jamaludin (46), yang tewas di tangan Andina.

Kapolres Banyuasin, AKBP Yudhi Markus Pinem SIk mengatakan, diduga pelaku Andina merasa tidak senang disuruh oleh korban mengosongkan showroom motor yang dikontraknya.

Sedangkan Andina merasa telah menyewa tempat usaha tersebut selama 5 tahun. Baru berjalan 2,5 tahun, masih sisa 2,5 tahun lagi. Sementara, Supen merasa telah membeli tanah showroom itu sehingga merasa paling berhak tempat tersebut.

Sebab perselisihan paham inilah terjadi perkelahian antara pemilik showroom, Andina dengan Supen dan Udin yang kini meninggal dunia akibat benda tajam.

“Informasinya seperti itu, bahwa pelaku dipaksa untuk mengosongkan tempat usahanya oleh kedua korban. Keluarga korban Supendi dan Jamaludin bahwa atas kesepakatan keluarga korban tidak dilakukan autopsi dan hanya dilakukan visum di Puskesmas Betung,” ujar tambah Kapolsek Betung AKP Nazirudin SH MSi didampingi Kanit Reskrim Ipda Ammukminin.

Kata dia, pihaknya sudah melakukan olah TKP, sedangkan pelakunya berhasil diamankan. “Pelaku sudah kita amankan, dan kasus ini masih dalam penyelidikan. Sejauh ini suasana di Betung sudah kondusif,” pungkas dia.

Sementara itu, tak pernah terbayangkan oleh keluarga, Supendi (38) jika sosok kepala keluarga itu harus meregang nyawa dengan cara yang cukup tragis. Meski keluarga telah ikhlas atas kepergian almarhum, namun berharap agar pelaku dapat dihukum setimpal.

Peristiwa Sabtu (11/5) sore menjelang berbuka puasa itu masih sangat membekas. Betapa tidak, kepergian almarhum Supendi sangat tak disangka. Di temui di rumah duka, Jupriadi, yang merupakan kakak kandung korban, menyebutkan sebelum kepergian saudaranya itu sangat mengejutkan.

“Kami sekeluarga besar masih sangat tak menyangka. Ini seperti mimpi, hampir tak percaya, adik saya harus meninggal dengan cara begini tragis. Dan memang, dia (almarhum) sangat dekat dengan saya. Tentu saya sangat kehilangan sosoknya yang begitu bertanggungjawab dan penyayang dengan keluarga,” ujar Jupriadi, yang juga anggota DPRD Banyuasin ini, dibincangi Senin (13/5) kemarin.

Memang, sebelum kejadian berdarah itu, kata Jupri, dia mendapatkan pertanda. Sayang dia mengaku tidak begitu paham akan pertanda itu, dan hal itu pun dianggapnya hanya hal biasa.

“Ketika hendak berangkat DL, di kamar mandi tiba-tiba lidah saya mengeluarkan darah. Namun setelah saya cek ke dokter tidak ada penyakit dalam. Mungkin ini adalah pertanda bahwa ada kabar tidak baik,” ceritanya mengenang kejadian itu.

Sosok almarhum Supendi, dikatakan Jupri,  membangun bisnis dari nol, dan bisa sukses dan berhasil di usia yang muda. Sayang, kesuksesan itu tidak bisa dinikmati dalam waktu yang lama, lantaran sang adik telah menghadap sang pencipta.

“Dia masih sangat muda, sungguh kami tidak percaya dan ini seakan mimpi saja. Dia memulai kerja dari satpam di PT KSL Lubuk Karet, cukup lama menjadi satpam di perusahaan tersebut dirinya memutuskan untuk berhenti dan memulai dengan bisnis. Setiap keputusan yang diambil olehnya, dirinya selalu meminta pendapat dengan saya. Selain sebagai yang tertua, juga dia termasuk yang paling dekat, termasuk usaha pertama kalinya bangunan adalah saran saya. Alhamdulillah dia sukses menjalankan usaha,” ungkapnya.

Firasat juga dirasakan istri almarhum, Eci Kristina. Bahwasanya dua hari sebelum kepergian suaminya itu, foto yang terpasang di ruang keluarga, kondisinya miring dan hampir terlepas. Namun hal yang tidak lazim itu tak begitu ditanggapi.

“Padahal kami sudah berencana menggelar hajatan khitanan anak kami, Juni nanti. Semua sudah dipersiapkan dan direncanakan. Tapi apa daya, manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang berkehendak,” ucap Eci dengan tersedu-sedu.

Bahkan,  Lebaran pun almarhum telah merencanakan untuk membagikan tunjangan hari raya (THR) yang akan dibagikan pada tetangga, keluarga dan karyawan. “Kami sangat kehilangan sosok beliau,” kata Eci, seraya mengatakan jika almarhum meninggalkan 3 orang anak.(CR/HB)