Siapa yang Picu Konflik, Bukan Wong Sumsel

Gubernur HD bersama FKUB Sumsel usai acara doa dan renungan bersama menuju Indonesia damai, rukun dan sejahtera pasca-Pemilu 2019, kemarin. Foto: koerniawan/palpos.id

PALEMBANG, PALPOS.ID– Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru mengharapkan warga  di Bumi Sriwijaya  untuk  tetap menjaga kondusifitas wilayah.  Mengingat daerah ini merupakan kawasan zero konflik  baik konflik politik, konflik antarumat beragama maupun konflik antarsuku dan golongan.

“Siapa pun dia  yang memantik konflik di wilayah Sumatera Selatan, jelas dia bukan warga Sumatera Selatan,” tegas Herman Deru dalam acara doa dan renungan bersama menuju Indonesia damai, rukun dan sejahtera  pasca-Pemilu 2019  di Taman Makam Pahlawan Palembang, kemarin.

Dalam kegiatan yang diinisiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumsel tersebut,  HD mengajak  seluruh umat  beragama  di Sumsel untuk  mengingat kembali sejarah bangsa ini.  Di mana Indonesia lahir  didasari dari keberagaman agama,  suku dan ras. “Kita sudah sepakat bahwa demokrasi adalah sebuah kontitusi yang harus kita jalani sebagai warga negara. Dibuktikan  pada Pemilu, 17 April lalu tingakat partisipasi pemilih di Sumsel mencapai 84 persen. angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam sejarah pemilu di Indonesia,” tegasnya.

Gubernur berharap jangan sampai kemeriahan dan kegembiraan masyarakat yang telah dibangun melalui pesta demokrasi tersebut terganggu  dengan kepentingan segelintir  orang yang merasa tidak puas akan  hasil dari proses demokrasi. “Saya yakin di tempat yang bersejarah ini, Sumatera Selatan akan menorehkan prasasti dimana Provinsi pertama yang melaksanakan testimoni dalam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di taman makam pahlawan. Terima kasih atas inisiasi yang luar biasa ini, terima kasih kepada seluruh umat beragama di Sumatara Selatan,” tambahnya.

Gubernur  mengajak seluruh warga Sumsel untuk menghormati hasil proses demoktrasi apapun hasilnya. “Dalam demokrasi,    suara terbanyak  dia yang menang,” tandasnya.

Sementara itu, sebelumnya, Ketua FKUB Sumsel KH Mal’an Abdullah menegaskan,  seluruh tokoh agama  sejak dari awal berharap agar Tuhan yang Maha Esa membukakan hati semua warga Indonesia untuk melihat persoalan ini sebagai dinamika dalam berbangsa dan bernegara yang harus disikapi dengan bijaksana. “Sehingga nanti setelah pengumaman resmi dari pihak KPU, jika ada keberatan kita salurkan sesuai dengan ketentuan perundang – undangan yang berlaku,” harapnya.

Menurutnya ada yang lebih penting akan dihadapi bangsa Indonesia yakni, kerukunan. Dirinya mengingatkan jika kesepakatan mendirikan Indonesia dibangun atas dasar perbedaan, termasuk politik. “Masa depan bangsa kita dibangun dari perbedaan suku, ras, agama. Para pendiri bangsa dan pahlawan dulu juga bisa mengesampingkan perbedaan yang ada. Dalam Islam ada pesan dari Khalifah Ali Bin Abi Thalib pernah mengatakan kepada Gubernur Mesir, yang bukan saudara seiman, adalah saudara dalam kemanusiaan. Itu jauh sebelum masa ini tepatnya, abad ke-7. Jadi, kita bisa meneladani apa yang ada untuk membangun bangsa,” ujar dia.

Senada dikatakan  Pendeta FK Sihombing. Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki dasar yang baik dalam keberlangsungan negara persatuan yang terdiri dari ragam kepercayaan, suku bangsa. Dirinya berpesan apapun hasil Politik pada 22 Mei mendatang diharapkan dapat menjadi langkah kemajuan bangsa. “Bangsa kita Indonesia dibangun di atas Pancasila dan, dilandaskan hukum UUD 1945 serta, dengan semboyannya Bhineka Tunggal Ika. Di mana, perbedaan dapat dikesampingkan. Pengumuman KPU nanti semoga membawa harapan, dan akan menjadi titik terang bangsa Indonesia. Apapun hasilnya akan membawa bangsa ini ke pada cita-cita bangsa Indonesia,” ujar dia. (ANA)