Pak Iwan “Mayat” Tutup Usia

Suasana pemakaman Pak Iwan di TPU Kandang Kawan, Rabu (10/07)

PALEMBANG, PALPOS.ID  Jajaran Polri khususnya Polda Sumsel dan Polresta Palembang, berduka atas kehilangannya salah satu Pekerja Harian Lepas (PHL) Forensik senior, Aswan bin Muya atau yang lebih dikenal dengan panggilan “Pak Iwan Mayat”.

Pak Iwan, menghembuskan nafas di usia 74 tahun, Rabu (10/7), pukul 03.30 WIB, di rumah anak pertamanya, Raspadilah.

Pantauan di rumah duka di Jalan Taqwa, Mata Merah, Sei Selincah, Kecamatan Kalidoni, Kota Palembang, puluhan karangan bunga berbaris di sepanjang jalan dan pelayat baik dari keluarga, tetangga, hingga anggota kepolisian memadati rumah duka untuk mengantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kandang Kawat.

Pak Iwan meninggalkan 6 orang anak, yakni Raspadilah, Rudiayanto, Asnawi (alm), Efriyanti, Indrian Saputra, dan Oktanovaria, serta 17 orang cucu.

Menurut penuturan anak pertamanya, Raspadillah atau biasa disapa Cek, almarhum Pak Iwan bergelut di dunia forensik yang identik dengan mengurus mayat korban pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan lalulintas, kebakaran dan lain sebagainya sejak tahun 1980-an hingga 2015.

“Awalnya beliau memang hobi mengurusi mayat, lama-lama bergabung dengan forensik kepolisian sejak tahun 80-an. Sudah ribuan mayat yang ayah urus, dan dia berhenti tahun 2015 karena sakit stroke,” jelasnya.

Berkat ketekunannya di dunia forensik, Pak Iwan, anak keempat dari 5 bersaudara ini, beberapa kali mendapatkan penghargaan  bidang kemanusiaan dari orang nomor satu di Indonesia, yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Ada 2 atau 3 penghargaan yang diterima ayah kami dari Pak SBY, ada juga cinderamata berupa cincin dari Pak SBY, yang sangat disayanginya, bahkan sudah banyak yang ingin meminta atau membelinya tapi tidak diberikannya,” ungkap Cek dengan mata sembab.

Menurut Cek, dalam menjalankan tugasnya mengurusi mayat, Pak Iwan tidak kenal pamrih dan ikhlas. “Ayah kami pernah bertugas mengurus mayat di sejumlah daerah terkena bencana, salah satunya Aceh, waktu gempa Aceh,” ungkapnya.

Dia juga berujar, sebelum meninggal dunia, almarhum Pak Iwan sering meminta bermacam makanan dan minuman, seperti es kacang merah, gado-gado, dan mie.

“Tapi sejak tiga hari terahir, nafsu makan beliau mulai berkurang sehingga kami terpaksa memasang infus, hingga akhirnya meninggal dunia. Kami selaku anak-anaknya, ikhlas melepas kepergian ayah, semoga beliau tenang di alam sana dan diterima di sisi Nya,” tukasnya. (ZON)