Korban MOS Bertambah, Pembina Jadi Tersangka

1. Suwito ketika menjenguk anaknya WJ dirawat di RS Karya Asih, yang menjadi korban kekerasan kegiatan MOS SMA Taruna Indonesia, Senin (15/7). Foto: Mizon/Palpos.id

PALEMBANG, PALPOS.ID- DUA jempol untuk jajaran Polresta Palembang yang berhasil mengungkap di balik  kematian siswa baru SMA Taruna Indonesia berinisial DBJ (14) saat mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS),  Sabtu (13/07) yang lalu. Setelah memeriksa intensif 21 saksi, mengumpulkan barang bukti, dan hasil forensik RS Bhayangkara, terungkap kematian DBJ.

Kuat dugaan, DBJ tewas akibat penganiayaan oleh pembina MOS SMA Taruna Indonesia yang beralamat di Jalan Pendidikan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, Palembang. Polisi pun menetapkan tersangka di balik kematian DBJ yakni Obby Frisman Arkataku (24).

Nasib tragis tersebut ternyata tak hanya menimpa DBJ.   Melainkan ada satu siswa baru lagi yang kondisinya sekarang sekarat. Dia adalah WJ (14), yang diduga mengelami kekerasan fisik, sehingga harus menjalani operasi di RS Karya Asih cabang Charitas Palembang karena ada ususnya yang terbelit.

Terkuaknya, setelah orang tua WJ, yakni Suwito (44) didampingi pengacara Firli Darta melaporkan kejadian yang dialami WJ ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang, kemarin siang.

Dari keterangan Suwito, pada hari yang sama meninggalnya  DBJ, Sabtu (13/07), ia mendapat telepon dari pihak SMA Taruna Indonesia memberikan kabar bahwa anaknya (WJ) berada di rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Waktu mendapat kabar anak saya di rumah sakit, saya langsung menjenguknya. Ternyata benar, anak saya sudah tidak sadarkan diri dan pihak rumah sakit minta persetujuan saya untuk melakukan operasi perut anak saya, karena katanya ada usus  yang terbelit,” ungkapnya.

Ditanya penyebabnya, Suwito mengatakan, saat mengikuti MOS, anaknya itu dipukul dan perutnya ditendang pembina yang juga sebagai pengawas siswa baru yang mengikuti MOS.

“Cerita anak saya seperti itu yang dialaminya saat mengikuti MOS. Sekarang anak saya masih dirawat di RS Karya Asih, Vaviliun Clara Nomor 9,” katanya seraya berharap pihak penegak hukum dalam hal ini Polresta Palembang dapat mengusut tuntas kasus yang dialami korban DBJ dan anaknya.

Kasatreskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara melalui Kanit PPA, Iptu Hermansyah, membenarkan pihaknya menerima laporan dari keluarga korban WJ, siswa SMA Taruna Indonesia yang mengalami kekerasan dalam kegiatan MOS.

“Benar, sudah kita terima laporannya secara lisan dan akan segera ditindaklanjuti,” katanya.  

Sementara itu, setelah menetapkan pembina MOS SMA Taruna Indonesia, Obby Frisman Arkataku (24) sebagai tersangka, penyidik Polresta Palembang  melakukan reka ulang kasus tersebut.

Reka ulang digelar sebagian  di SMA Taruna Indonesia. Yakni, dari adegan 10 hingga adegan 15.  Kelima adegan ini mengambarkan  DBJ ditarik tersangka. Kemudian kakinya dipukul menggunakan bambu, lalu diperintahkan  merayap.

Kemudian karena kerasnya latihan fisik,  korban kejang-kejang hingga pingsan. Sampai korban dipijat supaya badannya lekas sadar dan pulih oleh pembinanya yakni tersangka.

Adegan lain, akan digelar hari berikutnya di kawasan Talang Jambe  dekat Ponpes. Di mana reka ulang di tempat ini, mulai dari korban berjalan dari SMA Taruna Indonesia sampai ke Ponpes.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Drs  Widodo MPd mengatakan, pihaknya harus memastikan secara jelas untuk setelahnya mengambil tindakan tegas.

“Saya harus mengkonfirmasi terlebih dulu ke pihak kepolisian untuk setelahnya kita lakukan tindakan. Setelah dikonfirmasi dan sudah jelas maka itu akan menjadi pedoman kita untuk kedepannya mengambil tindakan,” katanya.

Namun, Widodo mengatakan bahwa masalah seperti ini merupakan peristiwa yang selalu diwanti-wanti oleh  Dinas Pendidikan  Sumsel. Masalah ini, katanya harus dibuka secara gamblang untuk nantinya dilakukan pembenahan.

“Langkah kita tentunya yang pertama adalah memastikan setiap Kepala SMA/SMK untuk benar-benar menerapkan zero tolerance bully dan kekerasan di sekolah masing-masing. Bersamaan itu kita dorong sekolah menjalankan kegiatan yang membangun tumbuhnya rasa nyaman, persaudaraan, toleran, serta sifat sosial kemanusiaan lainnya. Hal tersebut karena dari awal kita sudah berkomitmen untuk terus menekan angka kekerasan fisik dalam pelaksanaan MOS atau MPLS,” tambahnya.

Oleh sebab itu, dirinya selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel sangat berharap kejadian ini tidak kembali terjadi. Mengingat siswa merupakan aset yang sangat penting dalam meningkatkan kemajuan bangsa.

“Saya harap ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga baik bagi SMA Taruna Indonesia sendiri maupun sekolah lain agar benar-benar memastikan bahwa disekolahnya bebas bully secara verbal maupun kekerasan fisik,” tutupnya.(zon/den/umn)