Telisik Pelaku Baru, Izin Sekolah Bisa Dicabut

1. Suwito ketika menjenguk anaknya WJ dirawat di RS Karya Asih, yang menjadi korban kekerasan kegiatan MOS SMA Taruna Indonesia, Senin (15/7). Foto: Mizon/Palpos.id

PALEMBANG, PALPOS.ID – Kasus Masa Orientasi Siswa (MOS) berujung maut di SMA Taruna Indonesia Palembang terus dilakukan jajaran Polresta Palembang. Pengusutan tak berhenti hanya menetapkan satu tersangka, Obby Frisman Arkataku (24), yang merupakan pembina MOS.

Untuk diketahui, Obby yang baru tiga bulan diterima bekerja di SMA Taruna Indonesia ditetapkan sebagai tersangka tunggal yang menyebabkan meninggalnya  DBJ (14).

‘’Penyidik Polresta Palembang masih terus melakukan pendalaman dan pemeriksaan saksi-saksi untuk menelisik ada tersangka baru dan korban yang lainnya,’’ kata Kapolresta Palembang, Kombes Pol Didi Hayamansyah, kemarin.

Dijelakan Didi, pihaknya akan terus melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait meninggalnya  DBJ. Kata dia, tidak menutup kemungkinan ada pelaku dan korban lain. Didi meminta jika masih ada korban lain agar segera melapor ke Mapolresta Palembang, agar kasus serupa tidak terulang dan benar-benar tuntas.

Sementara, tersangka Obby kepada wartawan mengaku alumni salah satu PTS di kawasan Plaju jurusan Psikologi yang baru menyelesaikan studi tahun 2019.

“Begitu lulus saya mendaftar sebagai pembina di SMA Taruna Indonesia, karena yang dicari jurusan Psikologi, dan saya diterima,” katanya.

Dia juga mengakui telah melakukan kekerasan fisik terhadap korban saat mengikuti MOS yang diadakan SMA Taruna Indonesia tersebut.

“Waktu korban terjatuh, dia mengeluh kesakitan. Kemudian korban duduk, saya berusaha membantunya. Tapi tiba-tiba korban tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit,” ungkapnya.

Ketika mengetahui korban meninggal dunia, lanjut Obby, dia panik dan menyesali perbuatannya tersebut. “Saya menyesal dan minta maaf kepada keluarga korban,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Widodo SPd MM mengatakan, SMA Taruna Indonesia berdiri di Palembang sejak 2005 yang silam. Saat ini, sekolah tersebut mendidik sekitar 260 siswa.

‘’Sanksi bagi sekolah bisa dicabut izinnya. Untuk itu, kami akan mengevaluasi dari kejadian ini.  Untuk proses hukum kami persilakan kepada pihak kepolisian untuk mengusutnya hingga tuntas . Disdik Sumsel sendiri sudah memberikan arahan kepada seluruh sekolah baik negeri maupun swasta untuk tidak membenarkan MOS menggunakan kekerasan fisik,’’ kata Widodo saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin. (ZON)