Orang Tua Obby Tuntut Keadilan, Sebut Ada Kejanggalan

Ibu tersangka Obby (kiri) dan ayahnya memberikan keterangan kepada awak media di Kantor DPD Ferari Sumsel. foto : amizon

PALEMBANG, PALPOS.ID – Kasus kekerasan dalam kegiatan masa orientasi siswa (MOS) yang menyebabkan meninggalnya DBJ (14), siswa SMA Taruna Indonesia, Sabtu (13/07) yang lalu, terus bergulir.

Ternyata penetapan tersangka Obby Frisman Arkataku (24) oleh penyidik Satreskrim Polresta Palembang dianggap keluarga Obby terdapat kejanggalan.  Kedua orang tuanya, Romdania SPdI (44) dan Dardanela SPd (52), warga Jalan Madia Perumahan Korpri, Blok MD 10, Kelurahan Sekar Jaya, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten OKU, melalui kuasa hukumnya Suwito Winoto SH dan rekan-rekan yang tergabung dalam  DPD Ferari (Federasi Advokat Republik Indonesia) Sumsel, akan menuntut keadilan.

Kepada Palembang Pos, Romdani, ibu tersangka Obby mengaku, baru mengetahui anaknya menjadi tersangka, Senin (15/07), sekitar pukul 11.00 WIB, ketika mendapat telepon dari pengacara bernama Azhari, yang ditunjuk Polresta Palembang untuk mendampingi Obby.

“Waktu itu, suami saya sekitar jam 11.00 WIB, mendapat telepon dari seorang pengacara bernama Azhari dari Polresta Palembang. Dia menanyakan apakah kami sudah membesuk Obby atau belum, karena anak semata wayang kami itu jadi tersangka atas meninggalnya siswa SMA Taruna Indonesia (DBJ),” katanya sambil menangis tersedu, ketika dibincangi di Kantor DPD Ferari Sumsel, kemarin.

Namun, pasangan suami istri ini tidak langsung percaya dan mencari kebenarannya dengan menghubungi teman kosan Obby. Tapi beberapa orang dekat Obby juga tidak ada yang tau perihal penetapan tersangka tersebut.

“Nah, sekitar jam 13.30 WIB, Obby menelpon saya langsung, katanya pakai Hp polisi. Anak kami itu menyampaikan kalau dia sedang bermasalah dan menjadi tersangka, karena ada anak SMA Taruna Indonesia yang meninggal,” kata perempuan yang keseharian berdagang pakaian di pasar-pasar kalangan di wilayah OKU.

Mendapat kepastian Obby sebagai tersangka, lantas pasangan suami istri ini langsung pergi ke Polresta Palembang untuk menemui anaknya.

“Waktu bertemu, Obby bersujud mencium kaki saya dan bersumpah kalau dia tidak melakukan kekerasan itu. Kata Obby, dia terpaksa mengakui perbuatan itu karena dipaksa oleh sekitar 15 orang, dan takut digebuki, jadi dia mengakui semua,” katanya menyampaikan pengakuan Obby.

Mereka dengan tegas menyatakan, tidak menerima anaknya dihukum karena tidak bersalah. Sebab, menurut mereka, Obby merupakan anak yang tidak banyak ulah dan belum pernah bermasalah.

“Dia itu baru satu minggu bekerja di SMA Taruna Indonesia, gajinya Rp 1,3 juta. Dia baru saja menyelesaikan S1 jurusan Psikologi di Bina Darma dan langsung bekerja, saya sebagai orangtua mendengar anak bekerja merasa bahagia. Jadi saya tidak terima anak saya dihukum karena tidak bersalah. Tapi kalau anak saya memang bersalah, saya rela dia dihukum,” tuturnya.

Menurut keterangan Obby, lanjut Dardanela, siswa tersebut (DBJ) secara tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan membenturkan kepalanya ke aspal. Melihat korban melakukan  itu, lantas Obby langsung membantunya dan berusaha menyadarkan korban.

“Waktu itu anak saya mengawal siswa MOS paling belakang, liat korban seperti orang kesurupan dan membenturkan kepala, Obby berusaha membantu tapi entah mengapa anak saya justru yang jadi tersangka. Malah menurut pengakuan anak kami, bambu yang jadi alat bukti sekarang, bukan untuk memukul tapi digunakannya buat penunjuk jalan kalau malam,” ungkap Dardanela.

Sementara, kuasa hukum Obby  dari DPD Ferari Sumsel, Suwito Winoto SH didampingi timnya Agus Mirantawan SH, Harry Susanto SH, dan Nurlailatul Qodar Gathmir SH menyampaikan, sebagai tim kuasa hukum pihaknya menemukan adanya kejanggalan terkait penetapan tersangka terhadap kliennya (Obby).

“Ada kejanggalan, yang mana tidak sesuai dengan aturan di dalam KUHAP dan Undang Undang Kepolisian. Untuk itu, kami akan bertindak secara profesional, selaku mitra penegak hukum Catur Wangsa akan mengambil langkah-langkah hukum ke depannya. Seperti mengambil langkah hukum prapradilan dan pelaporan ke Propam Mabes Polri demi keadilan terhadap hak-hak daripada klien kami,” tegasnya.

Menyikapi kasus yang dialami kliennya, lanjut Suwito, pihaknya selaku kuasa hukum telah melakukan investigasi terhadap kasus ini dan akan mengawalnya sampai tuntas.

“Setelah kami investigasi ke lapangan terhadap tersangka dan saksi-saksi yang ada, klien kami Obby Friman Arkataku tidak ada melakukan pemukulan, penganiayaan terhadap korban sebagaimana yang sedang viral di media saat ini,” jelasnya. (ZON)