Tika dan Riko Dituntut Pidana Mati

Jalannya sidang tuntutan Tika dan M Riko di Pengadilan Negeri Kota Pagaralam, Jumat (19/7). Foto: evhan/Palpos.id

PAGARALAM, PALPOS.ID– Sidang perkara kasus pembunuhan berencana dengan korban Ponia dan  Selvia, anaknya,  kembali digelar dengan agenda tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pagaralam, Jumat (19/7).

Dari keterangan Kasi Intel Kejari Pagaralam, Gabriel SH didampingi anggota tim JPU, Giovani SH mengatakan, sudah dibacakan tuntutan di hadapan majelis saat sidang. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut kedua terdakwa Tika dan M Riko dengan hukuman maksimal yakni pidana mati.

Mengenai pertimbangan hukuman maksimal yang dibacakan penuntut umum, lanjut Gabriel, karena sejumlah hal-hal yang memberatkan. Di antaranya, menghilangkan dua nyawa orang juga korban masih meninggalkan anak. Sudah tentu anaknya selain kehilangan kakaknya (almarhumah Selvia, red) juga ibunya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

Pertimbangan lain, sudah jelas ini merupakan pembunuhan berencana. Juga disampaikan, pembunuhan berencana yang diskenario oleh Tika dan M Riko diketahui dilakukan sebanyak lima kali.

“Rencana keenam baru berhasil. Jadi ini sangat terencana, sehingga kami mengajukan tuntutan pidana mati kepada kedua terdakwa,” beber Gabriel.

Untuk diketahui, sebelumnya kedua terdakwa ini didakwa dengan dakwaan kesatu Primair pasal 340 jo 55 ayat (1) ke 1 KUHP subsidair pasal 338 jo 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan dakwaan kedua pasal 80 ayat (3) jo pasal 76C UU Nomor 35 Tahun 2014.

Sementara, masih berkaitan dengan perkara pembunuhan berencana terhadap korban Ponia ini, salah seorang terdakwanya, yakni Jefri sudah divonis majelis hakim dengan hukuman  penjara 10 tahun, dikarenakan pelaku masih di bawah umur. Hukuman yang dikenakan ini sempat tak diterima oleh pihak keluarga korban, yang dinilai tak sebanding hilangnya nyawa orang lain.

Sekadar mengingatkan, warga menemukan mayat  di Lekung Daun Kecamatan Pagar Gunung Kabupaten Lahat Sumatera Selatan, di aliran Sungai Lematang,  Senin (24/12/2018) yang silam. Diketahui mayat tersebut yaitu Poniah (39) warga Gunung Gendang Kelurahan Besemah Serasan Kecamatan Pagaralam Selatan Kota Pagaralam yang dinyatakan menghilang bersama putrinya Selvia (13) sejak Rabu (19/12/2018).

Berselang empat hari kemudian, Jumat (28/12/2018), polisi  dan warga kembali menemukan jenazah. Kali ini jenazah merupakan Selvia  yang merupakan anak Poniah mayat yang pertama kali diditemukan di aliran sungai yang sama.

Jajaran Polres Pagaralam langsung bergerak dan berkoordinasi dengan Polsek Pulau Pinang Lahat.  Alhasil, tiga pelaku pembunuhan tersebut dapat dibekuk di Jakarta. Dari hasil pemeriksaan dan pengakuan ketiga tersangka, terungkap bahwa Tika Herli adalah otak dan perencana pembunuhan keji ini, di mana kedua korban dihabisi di seputaran Simpang Mbacang Pagaralam dengan cara dicekik dan dihantam menggunakan balok kayu.

Kemudian mayatnya dibuang dari Jembatan Endikat setinggi lebih kurang 20 meter. Riko dan Jefri sebagai eksekutor dijanjikan imbalan uang sebesar Rp5 juta dan akan diberangkatkan menuju Taiwan. Dari keterangan otak pelaku, Tika Herli, motif pembunuhan  berlatar belakang utang piutang. (faj)