Deri Emosi Mendengar Pengakuan Vera

Prada Deri Pramana, menyampaikan pengakuan di hadapan hakim ketua, anggota dan jaksa dalam sidang di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (15/08). Foto: Mizon/Palpos.id

PALEMBANG, PALPOS.ID – Dalam sidang lanjutan di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Prada Deri Pramana mengungkapkan nekat membunuh Vera Oktaria, di dalam kamar 06 penginapan Sahabat Mulia Jalan PT Hindoli, Kelurahan Sungai Lilin, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Muba, karena tersulut emosi mendengar pengakuan kekasihnya tersebut telah hamil dua bulan.

Deri langsung menjambak rambut Vera dan membenturkan kepalanya ke dinding kamar. Namun sang kekasih memberikan perlawanan hingga kepalanya  dibenturkan lagi oleh Deri ke dinding kamar.

“Kemudian saya menduduki tubuh Vera, dan membekap wajahnya dengan bantal sambil mencekiknya,” kata Prada Deri Pramana, di hadapan hakim ketua, anggota dan jaksa Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (15/08).

Deri mengungkapkan, awalnya dia tidak ada niat untuk menghabisi nyawa Vera. Namun lantaran terbawa emosi dan secara refleks langsung menarik rambut Vera, kemudian membenturkannya ke dinding kamar 06.

“Kemudian saya cek kondisi Vera dengan memeriksa denyut nadi dan pernapasannya, ternyata sudah tidak bernyawa lagi. Lantas saya bingung dan keluar kamar untuk berpikir. Di luar saya melihat gudang di penginapan terbuka, lalu saya masuk dan menemukan gergaji besi,” jelasnya.

Setelah mendapatkan gergaji besi tersebut, lanjut Deri, terlintas dibenaknya untuk memutilasi Vera. Tapi belum selesai memotong tangan Vera yang satunya, gergaji besi itu patah. Kemudian, Deri menemui pamannya bernama Dodi di daerah Sungai Lilin dan menceritakan kejadian yang dilakukannya tersebut. Namun, Dodi tidak mau ikut campur dalam perbuatan yang dilakukan Deri dan mempertemukan Deri dengan Imam.

“Imam inilah yang membantu memberikan masukan untuk bisa menghilangkan jejak dengan cara membakar Vera, sehingga saya menyiapkan bahan bakar, korek api dan racun nyamuk yang saya beli di pasar Sungai Lilin,” terangnya.

Namun lantaran tidak tega melihat sang kekasih, maka Deri meninggalkan Vera di dalam kamar dengan kondisi telanjang bulat. Pasalnya sebelum melakukan pembunuhan disertai mutilasi, Deri sempat melakukan hubungan badan dengan Vera sebanyak dua kali.

“Saya tinggalkan Vera dengan kondisi tidak berpakaian dan termutilasi. Awalnya saya tidak ada tujuan, tapi saya disarankan salah satu penumpang bus untuk ke pondok pesantren di Serang Banten,” tuturnya.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Letkol CHK Khazim dengan Hakim Anggota Letkol Sus Much Arif Zaki Ibrahim dan Mayor CHK Syawaluddin, memutuskan menunda sidang hingga, Kamis (22/8) dengan agenda mendengarkan tuntutan jaksa. (zon)