Usai Dilantik, Beberapa Oknum Anggota DPRD Empat Lawang Berencana Gadai SK ke Bank

Anggota DPRD Empat Lawang yang dilantik beberapa hari yang lalu. Foto: dokumen Palpos.ID

EMPAT LAWANG, PALPOS.ID – Baru beberapa hari setelah pengucapan sumpah dan janji jabatan, saat ini sudah banyak anggota dewan, termasuk anggota DPRD Empat Lawang, mulai berencana menggadaikan SK miliknya, dengan menghubungi beberapa bank.

Berdasarkan menelusuran Palembang Pos di Bank SumselBabel (BSB) cabang Tebing Tinggi, diketahui sudah ada beberapa anggota dewan terpilih sudah menanyakan prihal penggadaian SK.

Nurfarida, pimpinan BSB Cabang Tebing Tinggi mengatakan, sampai saat ini sudah ada anggota DPRD Kabupaten Empat Lawang yang bertanya soal penggadaian SK. “Pasca pelantikan pasti ada yang gadai SK. Kalau saat ini sudah ada sekitar 10-an anggota dewan yang bertanya tentang syarat-syarat menggadaikan SK,” kata Nurfarida saat diwawancarai di kantornya, Rabu (28/08/2019).

Menurutnya, untuk menggadaikan SK ada beberapa ketentuan yakni memberikan SK sebagai anggota legislatif terpilih, slip gaji, dan harus ada rekomendasi dari partai masing-masing. Dikatakan oleh Nurfarida tidak semua anggota dewan menggadaikan SK. “Tidak semuanya menggadaikan SK. Tergantung dengan keinginan individu untuk menggadaikan apa tidak,” ujarnya.

Salah seoarng mantan anggota DPRD Sumsel yang engan disebut namanya membenarkan kalau, prilaku untuk gadai SK pasca pelantikan itu hal biasa dan banyak dilakukan oleh anggota dewan. “Banyak anggota dewan termasuk saya dulu juga pernah gadai SK di Bank Sumsel. Biasanya pinjaman diambil selama kurun waktu 5 tahun, sesuai masa jabatan,” ujarnya.

Uang pinjaman itu biasanya digunakan untuk membayar hutang kampanye, membeli kendaraan dan lainnya. “Biasanya uang itu digunakan untuk beli mobil baru. Soalnya sebagai wakil rakyat kita harus tampil beda, masak masih pakai mobil lama,” katanya.

Dengan pijam ke bank, maka uang gaji sudah sangat tipis. Selanjutnya untuk keperluan hari-hari, mereka mengandalkan uang perjalanan dinas dan rapat-rapat. “Jadi kalau dewan itu sering melakukan kunker atau studi banding keluar, itu sangat wajar. Karena dari situlah kami bisa dapat uang, soalnya gaji sudah dipotong uang di bank,” tukasnya. (pad/opa)