Siswa SMKN 1 OKU Timur Korban Bullying

Siswa yang menjadi korban bully dihadirkan dalam mediasi yang dilakukan Disdik OKU Timur, Selasa (10/09/2019). Foto: ardi/Palpos.ID

MARTAPURA, PALPOS.ID – Kasus bullying menimpa pelajar Sekolah Menengah Kejujuran Negeri (SMKN) 1 Martapura Kabupaten OKU Timur. Korban diketahui berinisial AI (16).

Dia menjadi korban pengeroyokan oleh rekan satu sekolahnya sendiri yakni IL dan dua puluh temannya. Akibatnya,  AI menderita fisik, hingga dikabarkan oleh pihak keluarganya sempat muntah darah.

Berdasar penuturan salah satu pelajar SMK Negeri I Martapura, keributan antara AI dan IL bermula saat mereka dihukum oleh guru dan diperintahkan mengecat batang pohon di sekolah. Saat itulah AI dan IL terjadi cekcok mulut.

Rupanya kejadian itu tidak berhenti di situ saja. Keesokan harinya, IL mengajak teman-temannya yang menurut informasi IL mengajak anak-anak SMPN 4 dan SMPN 2 Martapura dengan jumlah 20 pelajar, untuk mengeroyok AI yang saat itu sedang mengikuti jalan sehat di Stadion Tebat Sari Martapura.

“Yang kita lihat itu, AI dikeroyok oleh IL dan teman-teman sebanyak 20 orang di belakang Stadion Tebat Sari Martapura. Kita takut untuk memisahkan, nanti jadi bulan-bulanan mereka juga,” ujar salah satu pelajar yang saat itu di lokasi kejadian.

Kejadian ini pun ditengahi oleh pihak Dinas Pendidikan OKU Timur. Sejumlah wali murid dan Kepala  SMPN 2 dan SMPN 4 diajak mediasi. Sedangkan Kepala SMKN I Martapura tidak hadir, melainkan dihadiri oleh perwakilannya.

Dalam mediasi, Selasa (10/09), di Dinas Pendidikan OKU Timur,  keluarga AI merasa sangat terpukul dengan kejadian ini. Pasalnya, selain AI muntah darah, dia juga masih mengalami trauma mendalam. Bahkan saat mediasi tersebut terlihat ibu korban sempat menangis dan hingga pingsan.

“Kedatangan kita ke sini untuk meminta pertanggungjawaban dan penyelesaian dari keluarga korban dan dari pihak sekolah, jangan sampai ini terkesan dibiarkan,” ucap salah satu keluarga korban dalam mediasi tersebut.

Kejadian ini tentu menjadi catatan serius bagi pihak sekolah, bagaimana perasaan seorang wali murid yang menitipkan anaknya di sekolah berharap anak mendapatkan bekal ilmu yang bermanfaat namun ternyata mendapat kabar anaknya menjadi korban kekerasan.

Rohim, salah satu wali murid SMA mengaku khawatir mendengar kabar adanya kekerasan di dunia pendidikan  OKU Timur. Kata dia, jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan dikhawatirkan akan kembali terjadi pada pelajar-pelajar lainnya.

Kepala  SMKN 1 Martapura, Ribut Setiadi membenarkan bahwa kedua siswa yang yang berkelahi tersebut merupakan siswa dari SMKN 1 Martapura. Dia menanggapi serius hal tersebut dan akan mengambil langkah damai antara kedua keluarga siswanya.

“Kita dalam rumah tangga, dengan anak cuma 2 atau 3 kadang terjadi benturan, apalagi sekolah dengan anak lebih dari seribu. Tapi karena rasa sebagai satu keluarga, perdamaian dan kekeluargaan itu selalu kita tanamkan kesemua anak,” ujar Ribut. (ard)