Kabut Asap Selimuti Kabupaten Muratara, Masyarakat Mulai Alami Sesak Napas

Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Muratara juga mengganggu jarak pandang pengendara di jalanan, Jumat (13/09/2019). Foto: alam/Palpos.ID

MURATARA, PALPOS.ID – Sudah beberapa hari terakhir wilayah Kabupaten Muratara mulai diselimuti oleh kabut asap akibat kebakaran lahan di wilayah Kabupaten Muratara.

Dengan adanya kabut asap tersebut, membuat pengendara khususnya kendaraan roda dua susah untuk melihat, sebab mata merasa pedih. Begitu juga dengan pengendara roda empat yang jarak penglihatan hanya satu kilometer dari pandangan jarak normal 4-6 kilometer. Di sisi lain juga masyarakat mulai terkena gejala ISPA, seperti sesak napas dan batuk.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap sudah terlihat jelas menyelimuti Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), sehingga membuat pengendara terpaksa menyalakan lampu kendaraan. Para pengendara juga harus mengurangi kecepatan, dan bahkan pengendara bermotor harus menutupi hidung menggunakan masker, Jumat (13/09/2019).

Seperti yang diungkapkan Hen (26), salah seorang pelintas, kodisi kabut asap membuat pelintas harus ekstra berhati-hati dalam melajukan kendaraan. Selain karena jarak pandang yang semakin berkurang, kodisi diperparah dengan asap yang mengeluarkan bau menyengat. “Bau asapnya sangat menyengat, jadi hidung harus ditutup, mana asapnya sudah semakin tebal,” keluhnya.

Kondisi demikian membuatnya, juga pengendara lain harus menutup hidung menggunakan masker. Kemudian juga mengurangi kecepatan, disebabkan jarak pandang terhalang akibat diselimuti oleh kabut asap. “Ya, kalau tidak menggunakan masker bakal sesak napas. Bukan hanya mengganggu pernapasan, namun juga penglihatan. Mata jadi perih terkena asap,” paparnya.

Senada, Fitri (45) warga Lawang Agung, menjelaskan bahwa sejak hari Rabu lalu mulai merasakan kabut asap dan hingga sekarang bertambah tebal. Dampak dari kabut asap ini sangat mengganggu pernapasan dan bahkan mengakibatkan sesak napas. “Sekarang semakin menebal saja kabut asapnya, membuat sesak napas dan juga mata menjadi perih. Pastinya sangat menganggu sekali pernapasan akibat polusi udara yang diakibatkan oleh asap,” jelasnya.

Lebih lanjut ia berharap kepada pemerintah agar dapat bertindak tegas terhadap oknum yang melakukan pembakaran lahan atau hutan. “Jika ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan akan berdampak semakin buruk. Harapan kami selaku masyarakat, pemerintah harus segera mengambil tindakkan tegas terhadap oknum yang melakukan pembakaran hutan dan lahan,” harapnya. (rat)