Satgas Waspada Investasi 133 Fintech Ilegal

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing. Foto: ist/net

PALEMBANG, PALPOS.ID – SATGAS Waspada Investasi bersama 13 kementerian atau lembaga (K/L), terus melakukan edukasi secara masif kepada masyarakat. Mengingat masih banyak penawaran pinjaman online dari perusahaan fintech peer to peer lending tidak berizin yang merugikan masyarakat, hal ini dapat dilihar dari jumlah fintech ilegal yang di jaring tim satgas.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing, mengatakan edukasi terkait pemilihan perusahaan fintech peer to peer lending berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK), harus semakin gencar dilakukan. Hingga awal Oktober, Satgas kembali menemukan dan langsung menindak 133 entitas yang melakukan kegiatan fintech peer to peer lending ilegal yang tidak terdaftar di OJK.

“Kami tidak akan menunggu korban masyarakat semakin banyak akibat fintech peer to peer lending Ilegal. Jadi kami langsung menindak temuan fintech lending yang ilegal, dengan meminta pemblokiran kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika,” ujar Tongam dalam keterangan resmi, Senin (07/10/2019).

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, Satgas juga bekerja sama dengan Dinas Kominfo DKI Jaya untuk menayangkan iklan layanan masyarakat. Iklan tersebut berisi peringatan untuk menghindari fintech peer to peer lending ilegal.

“Kami meminta dukungan dan mengajak berbagai pihak untuk meningkatkan pemahaman masyarakat. Khususnya mengenai bahaya fintech peer to peer lending ilegal, karena sangat merugikan,” imbuhnya.

Tongam mengungkapkan, pada 6 September 2019, Satgas Waspada Investasi menemukan 123 entitas fintech peer-to-peer lending ilegal. Namun, dalam perkembangannya terdapat enam entitas yang membuktikan kegiatannya bukan fintech peer to peer lending.

Di antaranya aplikasi “MJASA SYARIAH” milik Kospin Jasa, aplikasi “Shopintar” milik PT Karya Widura Utama, aplikasi milik Komputerkitcom, aplikasi milik LuckyNine Apps, aplikasi “Smartech” milik PT Smartech Kredit Indonesia, dan aplikasi “Mentimum” milik PT Dinamika Mitra Sukses Makmur. (har)