QRIS Membendung Peredaran Uang Palsu

Hendri, pedagang kosmetik di Pasar Lemabang yang memakai QRIS untuk pembayaran non tunai. Foto: erika/Palpos.ID

PALEMBANG, PALPOS.ID – Peredaran uang palsu seolah menjadi momok bagi pedagang di pasar tradisional. Pasalnya, pedagang di pasar ini kebanyakan tidak memiliki alat canggih untuk mendeteksi uang palsu.

Masalah uang palsu ini cukup menjadi perhatian bagi Hendri, pedagang Toko Kosmetik Lengkap Cantik di Pasar Lemabang. Pria yang dulunya bekerja di perusahaan Jakarta ini, khawatir jika ada konsumennya yang membayar dengan uang palsu.

“Namanya pedagang kita selalu waspada. Tapi, kan sekarang pengedar uang palsu ini canggih, terkadang sulit membedakan mana uang asli mana yang palsu. Nah, kami pedagang kecil ini tidak punya alat khusus untuk mendeteksi uang palsu ini, selain memakai insting,” kata Hendri, kepada Palpos.ID, saat ditemui di tokonya, Jumat (29/11/2019).

Karena itu, lanjut Hendri, dia langsung setuju ketika ada petugas dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang menawarkan untuk memasang aplikasi QRIS (Quick Response Indonesia Standard) di tokonya.

“Sekarang kan zaman digital, semuanya serba digital. Termasuk untuk pembayaran. Meskipun kami berada di pasar tradisional, tapi tidak boleh ketinggalan zaman. Harus ikuti juga kebutuhan pelanggan. Salah satunya alat pembayaran non tunai ini. Kebetulan pelanggan saya banyak dari kaum milenial, anak-anak muda, jadi mereka senang sekali bisa bayar pakai aplikasi seperti OVO, Gopay, Link Aja dan juga dari seluruh bank,” paparnya.

Selain itu, lanjut Hendri, dengan adanya QRIS tidak perlu lagi banyak-banyak stiker untuk aplikasi non tunai. “Semuanya sudah satu pakai ini saja, Go Pay, Link Aja, OVO dan pembayaran non tunai, semuanya sudah jadi satu di QRIS ini,” jelasnya.

Menurut Hendri, banyak manfaat yang didapatkan dari aplikasi QRIS ini. “Itu tadi, bisa mencegah dapat uang palsu. Selain itu, saya juga aman di toko, nggak banyak uang cash, semua langsung masuk rekening. Konsumen juga pastinya aman, karena kemana-mana sekarang nggak perlu bawa dompet penuh uang cash,” papar warga Komplek Kencana Damai Kenten ini.

Yuhendri, penjahit di Toko Segaran Pasar Lemabang sudah memakai QRIS sejak seminggu lalu, untuk pembayaran non tunai. Foto: erika/Palpos.ID

Selain Hendri, ada juga Yuhendri. Pria yang sudah 19 tahun menggeluti pekerjaan sebagai penjahit baju pria dan wanita ini, juga sudah memasang QRIS di toko jahitnya, Toko Srikandi yang berlokasi di Lantai 2 Blok A No 11 Pasar Lemabang.

“Seminggu yang lalu ada yang menawarkan, saya langsung ikut. Tujuannya, ingin memudahkan pelanggan saya saja. Jadi, walaupun mereka tidak bawa uang cash bisa pakai pembayaran non tunai. Semuanya bisa disini, OVO, Link Aja, Gopay. Sekarang, pakai satu kata orang bank pakai QRIS,” jelas ayah tiga anak ini.

Diakui Yuhendri, dengan adanya aplikasi ini sangat membantunya dalam menjalankan usahanya. “Jadi lebih praktis dan aman. Uangnya langsung masuk rekening saya. Memang sekarang masih belum banyak yang bayar pakai aplikasi ini. Tapi, seiring perkembangan zaman, nanti pasti akan tambah banyak,” ungkapnya.

Senada diungkapkan Sugito, pemilik Toko Angga di Lantai 2 Blok A 12. “Saya pakai QRIS untuk kelancaran usaha. Jadi, pelanggan saya yang jahit baju tidak perlu repot-repot bawa uang cash. Ya, paling tidak saya sudah menyiapkan pilihan ke pelanggan, pakai cash bisa, pakai aplikasi juga oke,” bebernya.

Sementara Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumsel dan Bangka Belitung, Yunita Resmi Sari mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi aplikasi tersebut ke pedagang di pasar tradisional. Diantaranya kepada pedagang sayur, bordir,  Obat-Obatan,  peralatan kosmetik, dan penjahit.

“Pedagang dikenalkan dengan satu aplikasi, tujuannya untuk mengefisienkan beragam aplikasi pembayaran transaksi non tunai yang selama ini sudah dipakai masyarakat,” jelasnya.

Dalam sosialisasi, sambung dia, aplikasi QRIS dikenalkan dengan tagline unggul, yakni universal, gampang, untung dan langsung.

“Penggunaan QRIS dilakukan guna meningkatkan interkoneksi dan interoperabilitas, dengan manfaat diantaranya, data transaksi akan tercatat dengan baik, otomatis, dan termonitor. Selain itu, QRIS juga meningkatkan peluang traffic (aktivitas) pembayaran yang digunakan masyarakat. QRIS mampu dijadikan alternatif pembayaraan (transaksi) masyarakat kekinian, dan menjadi sumber data dalam rangka penyusunan kebijakan,” jelas dia.

Yunita menambahkan, dari data Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, pada triwulan I 2019 nilai transaksi non tunai yang paling tinggi yakni pengisian ulang (top up) yang nilainya mencapai Rp103 miliar dengan 97.686 kali transaksi.

“Selain itu nominal tertinggi lainnya pada pembayaran atas tagihan rutin bulanan seperti pembayaran PDAM, Listrik. Kemudian ada tagihan ponsel dan tagihan lainnya yang sifatnya dilakukan perbulan,” ungkapnya.

Selain pasat tradisional, lanjut dia, sekolah juga bisa menggunakan system ini untuk pembayaran kebutuhan pendidikan, dan juga untuk mendukung perekonomian syariah. “Yang jelas dengan QRIS ini juga sebagai persiapan Indonesia dalam ekonomi keuangan digital,” pungkasnya. (sef)