Hutan Lindung Dirusak, Harimau Sumatera Terdesak

Kepala Seksi Konservasi BKSDA Lahat Martialis Puspito menunjukkan bekas tapak kaki harimau di Kota Pagaralam, Sabtu (30/11/2019). Foto: efvhan/Palpos.ID

PAGARALAM, PALPOS.ID – Hutan lindung (Hutlin) di kawasan Rimba Candi dinilai sudah tak perawan lagi, karena dirusak manusia. Harimau Sumatera terdesak dan masuk perkampungan. Sebuah pesan supaya manusia menginstropeksi diri.

Suara burung dalam sangkar yang tergantung di luar rumah membuat Densi (38), terusik. Warga Dusun Rimba Candi Kelurahan Candi Jaya Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam ini membuka pintu.

Hari itu Jumat (29/11/2019) jelang maghrib. Densi keluar untuk membawa sangkar burung itu masuk. Tapi, baru selangkah kakinya berjalan, Densi tertegun. “Ada harimau berdiri membelakangi saya. Posisinya persis di samping rumah,” ujar Densi menceritakan pengalamannya.

Seingat Densi, harimau tersebut berwarna kuning dengan corak loreng hitam. Tubuh harimau ini sebesar kambing dewasa. Beruntung harimau itu tak menghiraukan keberadaan Densi. Si raja hutan ini berjalan pelan ke arah belakang rumah. Tubuhnya menghilang di balik kegelapan malam. “Menuju ke arah sungai kecil di belakang rumah,” tutur Densi.

Pada jam yang hampir bersamaan, Sugiarto, warga Dusun Rimba Candi lainnya mendengar suara ayam di luar kandang. Begitu menengok ke arah luar kandang, Sugiarto tertegun. Berjarak kurang lebih satu meter dari Sugiarto berdiri, seekor harimau nampak sedang menggigit seekor ayam. “Harimau itu terus masuk ke arah belukar,” tutur Sugiarto ketika bercerita di hadapan petugas BKSDA.

Berbondong-bondonglah petugas datang ke pemukiman yang berada di atas ketinggian sekitar 1.300 di atas permukaan laut (Dpl) itu. Petugas Polsek dan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) misalnya, mengecek jejak yang ditinggalkan harimau tersebut. “Kami datang untuk memastikan kebenaran informasi,” ujar Boy, seorang petugas BKSDA Lahat.

Beberapa hari belakangan ini, harimau membuat Martialis Puspito sibuk. Selama sepuluh hari misalnya ia bersama petugas BKSDA Lahat lainnya memantau pergerakan si raja hutan di Gunung Dempo.

Lalu Sabtu (30/11/2019), petugas BKSDA terjun ke Dusun Rimba Candi. “Iya. Itu memang jejak harimau, bukan satwa liar lain,” ujar Ito-sapaan Martialis Puspito. Di BKSDA Lahat, Ito menjabat sebagai Kepala Seksi Konservasi.

Ito menyatakan, munculnya harimau di pemukiman penduduk Rimba Candi merupakan tanda bahwa habitatnya di Hutlin di sana sudah terganggu. Gangguan ini ujar dia, bisa berupa penebangan pohon secara ilegal dan perburuan. Gangguan ini membuat Hutlin menjadi terdegradasi. “Karena rumahnya diganggu, akhirnya ke luar,” tutur Ito mengenai penyebab kemunculan harimau.

Ia lalu menyebutkan, harimau yang memangsa ayam seorang penduduk. Dia bilang, ini menandakan bahwa mangsa alami harimau di Hutlin sudah berkurang. Akibatnya harimau terpaksa ke luar dari sarangnya untuk mencari makanan. “Jangan salahkan harimaunya. Lah, makanannya di hutan sudah kalian buru,” tuturnya.

Sayangnya, Ito menambahkan, gangguan terhadap Hutlin-habitat harimau-tak diakui masyarakat. Dia berujar, masyarakat di sana tak mau jujur dengan dirinya sendiri. Padahal kejujuran ini penting. “Kejadian ini mestinya membuat masyarakat introspeksi diri,” ujar Ito.

Kapolres Pagaralam, AKBP Dolly Sugara SIk MH, tak mau berandai-andai mengenai penyebab munculnya harimau sumatera di Dusun Rimba Candi. Kata Dolly, kepolisian tidak berwenang untuk menganalisis penyebab munculnya harimau. “Itu nanti dianalisis sama BKSDA,” ujar Dolly, ketika ditemui setelah menemui penduduk Dusun Rimba Candi. (faj)