2020, Bakar Uang Indonesia Harus Setop

Yan Sulistyo, pengamat ekonomi Sumsel. Foto: istimewa/net

PALEMBANG, PALPOS.ID – Maraknya layanan berbayar digital, mendapat tanggapan dari Pengamat Ekonomi Sumsel Yan Sulistyo. Yan berharap di tahun mendatang (2020) bakar uang Indonesia harus setop atau berhenti.

Hal ini diungkapkannya setelah melihat pernyataan pendiri grup Lippo Mochtar Riady, yang tak lagi kuat “Bakar uang” demi memberikan promosi melalui layanan dompet digital OVO (fintech) pada akhir November yang lalu.

Dikatakan Yan Sulistyo, OVO setidaknya menghabiskan US$50 juta atau setara Rp700 miliar setiap bulan dalam kegiatan promosi. Demi menarik minat dan agar pengguna OVO tak lari menggunakan layanan dompet digital yang sejenis. “Grup yang telah dibangunnya ini mengurangi dua pertiga kepemilikan sahamnya di OVO, sehingga saat ini kepemilikan Grup Lippo dalam OVO menyusut menjadi 30 persen,” jelas Yan, Selasa (10/12/2019).

Terlebih, lanjut dia, “bakar uang” ini dinilai sebagai hal yang lumrah dalam model bisnis berbasis digital dan produk yang baru dalam fase introduction. Tujuan dari bakar uang ini dinilai sebagai langkah “edukasi” atau dalam bahasa pemasaran adalah mengakuisisi konsumen mengenai produk yang disediakan perusahaan kepada konsumen.

“Teknik bakar uang memang sah-sah saja dilakukan. Di Kota Palembang sendiri, saya banyak sekali menemui beberapa pelaku usaha yang menerima pembayaran menggunakan dompet digital yang menawarkan cashback atau promosi “uang kembali” yang disubsidi dua raksasa aplikator Gojek dan Grab,” terangnya.

Tak hanya soal makanan, promo menggunakan taksi dan ojek online pun dirasakannya sendiri ketika menggunakan aplikasi jemput-antar untuk keperluan pekerjaan atau pribadi di Palembang.

“Namun apakah pola “bakar uang” akan terus bertahan hingga selamanya?. Karena pola bakar uang pada dasarnya adalah untuk sebuah produk atau layanan yang baru memasuki pasar, sehingga perlu untuk mengakuisisi konsumen,” paparnya.

Namun seiring berjalannya waktu, pada fase pendewasaan produk (product maturity) model bakar membakar uang tidak bisa terus-terusan terjadi. Karena perusahaan sudah harus memikirkan kelangsungan bisnisnya ke depan, memperlebar atau memperbanyak line business-nya agar mencakup semua kebutuhan konsumen atau masyarakat. (har)