Gangguan Jiwa, Dadang Dua Tahun Dipasung Keluarga

Dadang Kurnia yang dipasung keluarganya selama dua tahun karena gangguan jiwa, Selasa (11/02/2020). Foto: alam/Palpos.ID

MURATARA, PALPOS.ID – Karena mengidap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), membuat Dadang Kurnia (29), warga Desa Bingin Rupit Kecamatan Rupit Kabupaten Muratara, dipasung menggunakan rantai selama 2 tahun. Itu dilakukan, karena Dadang dianggap mengancam keselamatan warga dan merusak isi rumah.

Syamsu, orang tua Dadang menjelaskan, anaknya menderita gangguan jiwa sejak berumur 16 tahun. “Kami sudah berupaya melakukan pengobatan demi kesembuhannya. Akan tetapi hingga sekarang belum juga membuahkan hasil,” ungkapnya, Selasa (11/02/2020).

Ia mengatakan, anaknya mulai dipasung lebih kurang dua tahun, karena sudah mengancam keselamatan orang lain dan juga menghancurkan harta benda di rumah. “Bahkan ingin memukuli dan juga mencoba membunuh saya,” bebernya.

Ia menceritakan, dirinya sudah dua kali mengobatinya ke rumah sakit jiwa, namun Dadang kembali sering mengamuk. “Kalau pengobatan secara medis sudah dua kali dilakukan yakni ke RSJ Palembang dan RSJ Bengkulu, tapi masih tetap tidak ada perubahan,” jelasnya.

Ia berharap dapat bantuan dari  Pemkab Muratara untuk mengobati anaknya, sebab sekarang kondisi keuangan keluarga tidak memungkinkan. “Kami sangat berharap adanya bantuan untuk kesembuhan anak saya,” harapnya.

Terpisah Kades Bingin Rupit Hengky membenarkan ada warganya yang ganguan jiwa. Bahkan dulu sudah dilaporkan kepada instansi terkait, akan tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda yang bersangkutan diobati.

“Dadang itu dipasung ketika dia mengamuk saja, sebab merusak isi rumah dan bahkan ingin membunuh bapaknya sendiri,” ungkapnya.

Dijelaskannya kondisi Dadang itu kumat-kumatan. Sebab terkadang dia terlihat biasa-biasa saja, dan terkadang penyakitnya kumat. “Dadang itu mengamuk secara tiba-tiba dan terkadang biasa saja, terlihat seperti tidak gangguan jiwa,” tambahnya.

Sementara, H Zainal Arifin Kepala Dinas Sosial Kabupaten Muratara mengatakan, pihaknya akan cepat tanggap terhadap pasien ODGJ sesuai aturan Indonesia Bebas Pasung.

“Setiap ada pasien ODGJ, masyarakat harus cepat lapor ke Dinas Sosial dan Dinkes dengan membuat rekomendasi dari Kepala Desa setempat. Dalam waktu dekat, kita akan ke rumah pasien itu,” katanya. (rat)