Siswa SMKN Sumsel Ciptakan Ambulance Bike

Kepala SMKN Sumsel, Rafli bersama guru dan siswa saat memperlihatkan Ambulance Bike, Selasa (11/02/2020). Foto istimewa

PALEMBANG, PALPOS.ID – Selama dua bulan bergotong royong, pelajar SMK Negeri Sumsel kembali hasilkan karya yang patut diacungi jempol, membuat ambulance bike.

Kepala SMKN Sumsel, Rafli mengatakan, ambulance bike ini hasil karya siswa bergotong-royong dari empat jurusan, yakni jurusan teknik permesinan, teknik kendaraan ringan, teknik mekatronika dan teknik listrik.

Jadi, setiap ada praktik, siswa ini mencoba melakukan ambulance bike sekaligus belajar. Akan tetapi, untuk tim inti ada delapan orang yang setiap hari mengerjakan ini. ‘’Tim inti kerja didampingi guru pendamping. Alhamdulilah ambulance bike ini berhasil diciptakan dengan sempurna,” jelas dia, Selasa (11/02/2020).

Kata Rafli, ambulance bike ini menghabiskan dana sekitar Rp 35 juta. “Untuk motornya kita memanfaatkan barang inventarisir kantor yang tidak terpakai. Lalu, ada juga barang-barang yang kita gunakan lagi untuk pembuatan ini. Kalau tidak memanfaatkan barang yang ada mungkin bisa lebih dari   Rp 35 juta,” tegas Rafli.

Ia mengatakan dalam waktu dekat akan memperkenalkan ambulance bike ini kepada masyarakat. “Gunanya juga sangat baik yakni membantu siswa jika terjadi hal-hal tidak diinginkan, diantar menggunakan ambulance bike ini,” ungkap dia.

Sementara itu, Ketua Tim Ambulance Bike, Riyo Dzulkarnain mengaku pembuatan ambulance bike ini cukup penuh perjuangan. “Alhamdulilah walaupun memakan waktu dua bulan, tapi selesai juga,” ujar siswa kelas XII jurusan otomotif ini.

Ia mengatakan, dirinya dan teman-teman tim inti, setiap hari sehabis pulang sekolah sampai sore hingga malam mengerjakan ini. ‘’Dan kalau jam pelajaran juga dilakukan oleh siswa lain secara umum saja saat lagi praktik,” ungkap dia.

Riyo mengakui ada kesulitan untuk membuat ambulance bike ini yakni perakitannya yang memakan waktu hingga 3 minggu. Untuk mesin, dan lain sebagainya ia mengaku tidak begitu kesulitan karena dilakukan secara gotong-royong. “Dalam perakitan badannya ini memang memakan waktu cukup lama karena cukup rumit,” jelasnya.

Ia menjelaskan untuk perakitan ini juga dilakukan dengan bahan atau alat-alat yang sebagian ada yang tak terpakai lagi dan ada yang baru. (uci)