Rapor Rawan Dimanipulasi

JAKARTA, PALPOS.ID – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebut, bahwa potensi manipulasi nilai rapor untuk kemudian meluluskan siswa dengan cara yang tidak benar sangat tinggi.

Plt. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano mengakui, akan ada potensi manipulasi nilai rapor untuk meluluskan siswa. Ia meminta, agar guru jujur dalam mengisi nilai rapor tersebut.

“Jangan sampai kepercayaan kepada guru ini hilang. Karena sekarang ini kan murni dilakukan oleh satuan pendidikan. Ini yang harus dimanfaatkan dengan benar-benar,” kata Supriano, Rabu (1/4).

Untuk itu, Supriona mengatakan, pihaknya akan melakukan pengawasan menyeluruh kepada satuan pendidikan dalam mengisi hasil rapor siswa. Namun, ia tak merinci langkah pengawasan seperti apa yang akan dilakukan pihaknya terkait proses pengisian rapor siswa.

Berdasarkan hasil survei kecil yang dilakukan pihaknya terhadap 410 anggota IGI, tampak jalur prestasi yang lebih banyak menggunakan rapor itu memilki potensi kecurangan sebesar 81,94 persen.

“Bahkan 36,09 persen di antaranya menyatakan kecurangan sangat bisa terjadi. Sementara hanya 18,06 persen responden yang tidak yakin nilai rapor bisa dimanipulasi,” ungkapnya.

Dalam survei yang pihaknya lakukan, kata Supriano, sebagian guru menyatakan bahwa wali kelas dan kepala sekolah di SD dan SMP sulit menolak permintaan orang-orang tertentu untuk mengubah nilai rapor.

“Apalagi disertai ancaman nasib mereka atau pendekatan ‘amplop’ secara personal,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim mengusulkan, kepada Kemendikbud agar menghapus jalur prestasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020.

Pasalnya, dari hasil survei kepada 410 responden yang memberikan pendapatnya, sebanyak 81,94% guru di Indonesia menyatakan bahwa nilai rapor bisa dimanipulasi.

“IGI mengusulkan agar jalur prestasi untuk masuk sekolah unggulan dihapus,” ujar Ramli.

Ramli menjelaskan, survei dilakukan dengan memberi pertanyaan apakah PPDB 2020 akan menggunakan nilai rapor untuk penerimaan SMA dan SMP bisa di manipulasi? Hasilnya, sebanyak 148 responden atau 36.09% menyatakan “sangat bisa”.

Sedangkan 188 responden atau 45,85% menyatakan “bisa” atau total 81,94% responden yang merupakan guru menyatakan yakin bisa dimanipulasi.

“Sementara hanya 18,06% responden yang tidak yakin nilai rapor bisa dimanipulasi terdiri atas 18 responden atau 4,4% yang menyatakan “sulit”, 41 responden atau 10% menyatakan sangat sulit dan 15 responden atau 3,66% menyatakan mustahil atau tidak mungkin,” jelasnya.

Ketika diberikan pertanyaan terkait alasan mereka yang tidak yakin nilai rapor bisa dimanipulasi, lanjut Ramli, para guru menjelaskan bahwa selama ini mereka sudah menggunakan e-rapor. Sehingga sangat sulit atau tidak mungkin lagi dimanipulasi.

Sementara mereka yang yakin nilai rapor bisa dimanipulasi, karena mereka belum menggunakan e-rapor atau mereka tahu bahwa masih banyak sekolah yang belum menggunakan e-rapor.

“Dari sana, kami kemudian menelusuri dan menemukan data bahwa siswa SD kelas 6 dan siswa SMP kelas 9 yang saat ini akan menghadapi PPDB masih sangat banyak yang belum menggunakan erapor,” tuturnya.

Data keseluruhan yang diperoleh IGI, hanya 30-40% sekolah di Indonesia yang sudah menggunakan e-rapor. Maka itu, menurut IGI karena itu penerimaan siswa baru lewat jalur prestasi tidak layak untuk digunakan. (der/fin)