Dewan OKU Desak Bulog dan Dinsos Bertanggungjawab

Yudi Purba Nugraha, Wakil Ketua DPRD OKU. Foto: istimewa/net

BATURAJA, PALPOS.ID – Agar tidak menimbulkan salah persepsi di masyarakat, dalam waktu dekat DPRD OKU bakal memanggil Perum Bulog OKU dan Dinas Sosial OKU terkait polemik salah satu paket sembako yakni berupa beras diterima 20 ribu masyarakat OKU yang terdampak Covid 19.

“Dinas Sosial OKU dan Perum Bulog OKU harus bertanggung-jawab terhadap masalah ini,” ucap Wakil Ketua DPRD OKU, Yudi Purba Nugraha, saat dikonfirmasi wartawan via ponselnya, Rabu (27/05/2020).

Pemanggilan ini, lanjut Yudi, agar jangan persepsi masyarakat berbeda terhadap Pemkab OKU. “Pemkab OKU sudah menganggarkan anggaran banyak untuk membagikan paket sembako bagi warga terdampak Covid-19,” tukas Yudi.

Diterangkan Yudi, terkait paket sembako yang dibagikan tersebut, merupakan tanggungjawab Dinas Sosial OKU yang melakukan pendataan termasuk penganggaran dan jumlah anggarannya.

Politisi Partai Amanat Nasional OKU ini menyesalkan peristiwa ini. Pasalnya, permasalahan ini bukan kali ini saja yang dialami Dinsos OKU yang dipimpin Syaiful Kamal SKM M Epid.

“Kita sudah memanggil Dinsos OKU terkait penanganan Covid-19 mengenai pemakaman yang merupakan tanggungjawab Dinas Sosial,” terang Yudi.

Yudi enggan berkomentar terlalu jauh apakah polemik ini ke ranah hukum. Pasalnya, dirinya mendengar secara langsung dan sejauh mana tingkat kesalahannya. “Apakah disengaja atau tidak disengaja itu akan terjawab setelah mereka kita panggil nanti,” pungkas Yudi.

Sementara itu sejumlah warga OKU mengaku sangat menyesalkan adanya beras tak layak konsumsi yang dibagikan Bulog kepada masyarakat terdampak covid-19.

Seperti diungkapkan Feri, warga Kecamatan Baturaja Timur. Menurut Feri, dirinya berpengalaman menjual beras di Baturaja. “Saya ngambil beras dari Belitang, OKU Timur. Setiap ngambil beras, ada harga ada kualitas,” ucap Feri.

Hal senada diungkapkan Dewi, pedagang beras domisili Kelurahan Kemalaraja. Menurut Dewi, sebagai pedagang dirinya tidak sampai hati menjual beras kualitas rendah kendati harganya murah. Pasalnya, sungguh tidak manusiawi menjual beras tak layak konsumsi demi meraup keuntungan. “Beras itu bukan pajangan tapi untuk dimakan,” tukas Dewi. (eco)