Usai Bunuh Kakak Angkat, Masih Sempat Nyabu

Tersangka Romadon dan MR diintrogasi Kasubdit 3 Jatanras Polda Sumsel Kompol Suryadi, Rabu (1/7)

PALEMBANG, PALPOS.ID – Berdalih terdesak ditagih utang, membuat Romadon Irwansyah (24) jadi hilang akal sehat. Warga Jalan Lettu Karim Kadir, Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, Palembang ini nekat melakukan pembunuhan.

Dia membunuh Khairuddin alias Heru (35), warga Jalan Naskah II, Kecamatan Sukarame, Palembang yang tewas akibat tusukan pisau di leher, dagu, mulut dan tangan. Dia menghabisi korban itu tidak sendirian.

Melainkan bersama MR (16), warga Jalan Lettu Karim Kadir, Kelurahan 36 Ilir, Kecamatan Gandus. MR yang berambut pirang ini, tidak lain masih adik angkat korban. MR ditangkap di rumahnya, Rabu (1/7), sekitar pukul 04.00 WIB.

Tidak lama kemudian giliran Romadan ditangkap di kawasan Jalan Musi Kecamatan Gandus Palembang. Kini, keduanya mendekam di tahanan sementara Mapolda Sumsel.

Dari pengakuan MR, pembunuhan itu atas ide Romadon karena pusing terdesak utang ditagih koperasi dan sering ribut dengan sang istrinya.

“Madon mintak tolong, dia ada utang Rp 800 ribu dengan koperasi, jadi ribut terus sama istri. Uang itu dipakai buat jualan. Jadi awalnya aku ajak untuk mencuri ayam saja keliling di daerah Talang Kelapa,” ungkapnya.

Bungsu dari tujuh bersaudara ini, mengenal baik korban Khairuddin alias Heru, warga Jalan Naskah II, Kecamatan Sukarame.

“Kak Heru itu sudah aku anggap kakak sendiri, kakak angkat. Tapi aku ngomong sama Madon, ambil motornya saja, jangan dibunuh,” timpalnya.

Buruh kapal ponton pasir ini, mengatakan tidak ada niat untuk menghabisi Heru kakak angkatnya itu.

“Baik sekali kak Heru itu, terus aku sama Madon berangkat dari rumah ke Naskah ke tempat kakak angkat. Kak Heru aku ajak ke Gandus. Setelah itu keluar lagi boncengan tiga, waktu di jalan rusak di Pulokerto itu dieksekusi,” bebernya.

MR mengatakan saat kejadian ia di depan membawa motor Honda Beat warna putih biru nopol BG 3056 ZU, korban di tengah dan pelaku Madon di belakang bonceng tiga.

“Sekitar jam 00.30 WIB, kak Heru dibunuh sama Madon, aku tidak ikut-ikut. Habis kejadian Madon kabur, aku tolong kak Heru, dibawa ke Jalan Naskah II. Tiga kali aku gedor rumah di sana, sama tetangga kak Heru dibawa ke RS Myiria terus ke RSMH itu sekitar jam 04.00 WIB,” bebernya.

“Kalau ditanya dokter atau keluarga, kenapa korban luka parah. Aku ngomong habis berkelahi sama kawan,” katanya. Setelah menolong korban ke rumah sakit, MR kabur  dengan alasan pulang untuk mandi karena bajunya penuh dengan bekas darah.

“Sehari habis kejadian aku beli paket sabu Rp 400 ribu. Aku tidak kabur kemana-mana. Nyesal rasanya, padahal kak Heru itu baik baik sekali orangnya,” tukasnya.

Sedangkan pengakuan pelaku Romadon, ide untuk membunuh dan merampas motor korban itu memang darinya.

“Itu ide aku, aku yang ajak MR untuk mengambil motor. Aku juga yang nusuk korban pakai pisau. Tidak ada niat membunuh, karena korban berontak jadi aku tusuk terus pakai pisau dari belakang,” bebernya.

Kuli bangunan ini mengaku ini kali pertama ia berurusan dengan polisi. “Baru sekali ini ditangkap. Kalau aku tidak pakai barang haram itu. Motornya aku jual Rp 1,2 juta,” tukasnya.

Kasubdit 3 Jatanras Polda Sumsel Kompol Suryadi SIk didampingi Kanit I Kompol Antoni Adi SH MH dan Aiptu Heri Kusuma SH alias Hergon mengatakan atas perbuatannya itu pelaku dijerat pasal berlapis.

“Kedua pelaku dikenakan pasal 338 KUHP dan 365 KUHP dengan ancaman seumur hidup. Korban dieksekusi dengan ditusuk-tusuk, motornya diambil dan dijual,” jelasnya.

“Uang penjual Rp 400 ribu dibelikan narkoba oleh MR dan sisanya Rp 500 ribu diberikan ke pelaku. Pelaku MR memang mengenal korban Heru sebagai kakak angkatnya,” tukas Kasubdit 3 Jatanras.

Diketahui tindak pembunuhan itu dialami Khairudin alias Heru, pria masih berstatus lajang. Warga Jalan Naskah II, Kecamatan Sukarame, Palembang ini tewas dengan luka tusukan di leher, dagu, dan mulut. Terjadi Sabtu (06/06/2020) yang lalu, sekitar pukul 02.00 WIB. (*)