Wako Prabumulih Sebut Data Kasus Positif Covid-19 Tidak Valid

Ir. H. Ridho Yahya, Walikota Prabumulih. foto: istimewa

PRABUMULIH, PALPOS.ID – Walikota Prabumulih, Ir H Ridho Yahya MM mengatakan, data perkembangan Covid-19 dilansir dilaman instagram @sumselmaju1 tanggal 9 Agustus 2020 menyebutkan total kasus positif Covid-19 di Prabumulih berjumlah 105 orang, tidak valid.

“Tidak valid 105, itukan tidak sampai. Itu data-data lama. Kayak Rara (salah satu ASN Pemkot Prabumulih). Rara sudah dua kali tes dan negatif, tapi masih masuk,” ujar Ridho, Senin (10/08/2020).

BACA JUGA :

Terkait itu, Ridho sudah memanggil Kadinkes untuk klarifikasi jumlah kasus positif. “Pak Tedjo sudah ku panggil,” tuturnya.

Masih kata Ridho, kembali bertambahnya jumlah Covid-19, dikarenakan masyarakat abaikan protokol kesehatan. “Sudah sering kita wanti-wanti, kita ngeri terulang tapi masyarakat abaikan khususnya di pasar,” kata Ridho.

Ridho menuturkan, untuk menekan kembali jumlah kasus positif, pihaknya kembali melakukan sosialisasi secara masiv dan juga melakukan penyemprotan disinfektan.

“Ke depan kita akan menyebarkan edaran Pak Gubernur tentang masker, akan ada denda,” tegasnya.

Terpisah, Kadinkes Prabumulih, dr Happy Tedjo mengatakan, jumlah kasus positif tidak sampai 105 kasus seperti tertera dilaman instragram tersebut. Berdasarkan data di Dinkes Prabumulih, jumlah kasus positif sebanyak 14 kasus.

“Kenyataannya itu pasien kita (positif corona,red) empat belas, pasien diisolasi di rumah sakit hanya tiga bergejala, yang tidak bergejala 11 mandiri (isolasi mandiri) di rumah,” ungkap Tedjo sembari mengatakan status Prabumulih masuk zona merah covid-19 merupakan kewenangan Pemerintah Pusat yaitu BNPB. “Itu ranahnya BNPB,” ucapnya.

Tedjo menuturkan, terkait adanya perbedaan data kasus positif itu dalam waktu dekat pihaknya akan mengklarifikasi ke provinsi.

“Kita akan sinkronisasi data, mungkin laporan kita dak singkron yang dilaporkan itu tidak sampai di sana,” ucapnya.

Dikatakan Tedjo, selama ini pihaknya fokus dibidang kesehatan. “Bahwa kita dari kesehatan fokus di kesehatan, menekan rendah kalau yang lain ranahnya lain untuk menghalo-halokan penggunaan masker,” pungkasnya. (*)