SMK di Sumsel Siap Menjawab Tantangan Pasar Kerja

Maket SMK Gelumbang. Foto: istimewa/repro

PALEMBANG, PALPOS.ID – Di tengah isu tingginya angka pengangguran terutama di tengah pandemi Covid-19 saat ini, merupakan tantangan bagi guru dan sekolah khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Sumsel.

Mondyaboni, Kabid SMK Dinas Pendidikan Sumsel

SMK disiapkan untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan mampu bersaing di pasar kerja yang makin kompetitif. Di Sumatera Selatan sendiri berdasar data terbaru Dapodik Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel per Agustus 2020, jumlah SMK negeri sebanyak 115 dan SMK swasta 186.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di bawah kepemimpinan Gubernur H. Herman Deru dan Wakil Gubernur H. Mawardi Yahya  cukup serius dalam menciptakan SDM siap kerja di Bumi Sriwijaya. Sebagai bukti, Pemprov Sumsel melalui Dinas Pendidikan terus melakukan renovasi dan membangun SMK baru.

Sebagai bukti, untuk tahun 2020 ini Pemprov Sumsel membangun dua sekolah baru (USB)  menggunakan APBD. Kedua sekolah tersebut yakni SMK Negeri Prabumulih dan SMK Negeri OKU Timur. Selain itu, 10 SMK di Sumsel direhab yang masuk Program Center Of Excellence (COE) atau pusat keunggulan.

Untuk meningkatkan mutu lulusan, Dinas Pendidikan Sumsel melalui Bidang SMK menjalankan Program Revitalisasi SMK berdasar Instruksi Presiden Tahun 2016, sebagai salah satu upaya yang tepat dan strategis guna mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi SMK dan sebagai solusi bagi para lulusan SMK memasuki dunia kerja, termasuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Di Sumsel sendiri sejak 2019, beberapa SMK masuk Program Revitalisasi ini. Meliputi SMK Negeri 1 Lahat, SMK PGRI 1 Lahat, SMK Negeri 1 Lubuk Linggau, SMK Negeri 2 Lubuk Linggau, SMK Negeri Gelumbang, SMK Gajahmada Palembang, SMK PGRI 1 Palembang, SMK Negeri 2 Palembang, SMK Negeri 6 Palembang, SMK Negeri 3 Palembang, dan SMK Satria Nusantara, Betung, Banyuasin.

Pelaksanaan revitalisasi SMK ini, tidak hanya menyasar aspek fisik, seperti perbaikan gedung sekolah, menambah ruang belajar, membangun ruang laboratorium, dan pengadaan peralatan pendidikan.

Selain itu, adalah aspek kurikulum yang menjawab tantangan tenaga kerja untuk kebutuhan dunia usaha dan industri, serta sertifikasi kompetensi dan pemasaran lulusan.

Dalam menghadapi era global dengan akselerasi yang cepat, maka diperlukan tenaga kerja yang tidak hanya mempunyai kemampuan bekerja dalam bidangnya (hard skills). Namun juga sangat penting untuk menguasai kemampuan menghadapi perubahan serta memanfaatkan perubahan itu sendiri (soft skills).

”Oleh karena itu menjadi tantangan pendidikan untuk mengintegrasikan kedua macam komponen kompetensi tersebut secara terpadu dan tidak berat sebelah agar mampu menyiapkan SDM utuh yang memiliki kemampuan bekerja dan berkembang di masa depan menuju Sumsel Maju untuk Semua,’’ ujar Mondyaboni, Kabid SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel.

Integrasi soft skills dalam proses pendidikan di SMK merupakan langkah strategis yag perlu segera dilakukan guna menghasilkan lulusan yang benar-benar dibutuhkan oleh pihak industri.

Langkah ini sekaligus sebagai upaya meningkatkan relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja/industri. Dengan mengintegrasikan soft skills dalam kurikulum, proses pembelajaran dan iklim budaya sekolah diharapkan SMK mampu menghasilkan lulusan paripurna yang memiliki kemampuan utuh berupa hard skills yang terintegrasi dengan soft skills yang diperlukan dalam kehidupannya.

Salah satu sistem pelatihan kompetensi pada pendidikan kejuruan adalah sistem magang bagi siswa SMK. Sistem magang pada SMK operasionalnya disebut dengan Pendidikan Sistem Ganda  dan saat ini sering disebut sebagai Praktik Kerja Industri (Prakerin).

Prakerin merupakan bagian dari program bersama antara SMK dan industri yang dilaksanakan di dunia usaha dunia industri (DUDI).

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 15 disebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja dalam bidang tertentu. (*)