Kemenhub : Truk ODOL Harus Segera Dinormalisasi

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, saat sosialisasi pemotongan bak truk untuk normalisasi ODOL di terminal Alang-alang Lebar Palembang, Sabtu (12/9/2020). Foto Novry/PALPOS

PALEMBANG, Palpos.Id – Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) meminta agar pengusaha angkutan darat truk segera melakukan normalisasi truk yang kelebihan muatan dan dimensi.

Dalam kunjungannya, pak Dirjendat (Direktur Jenderal Perhubungan Darat) Kementerian Perhubungan RI, Budi Setiyadi menyampaikan sosialisasi terkait ODOL (Over Dimension and Over Load), agar segera melakukan normalisasi.

“Normalisasi truk ini bertujuan pada aspek keselamatan pengemudi truk selain juga menimalisasi kerusakan jalan,” tukasnya, dalam kegiatan di Terminal Alang-alang Lebar Palembang, Sabtu (12/9/2020).

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, negara harus menanggung kerugian sebesar Rp43 triliun per tahunnya karena truk ODOL.

“Kasihan pengemudi truk itu kalau kelebihan muatan, harusnya 10 ton malah ditambah menjadi 20 ton. Ini berat dan menyebabkan kecelakaan. Sejak tahun 1990-an jalan di Palembang pun masih rusak karena ODOL ini,” ujar Budi.

Ia mengatakan, meskipun sosialisasi normalisasi truk ODOL saat ini sudah digencarkan di Palembang, tapi tetap saja banyak pelanggaran di wilayah Sumsel. “Sebelumnya sosialisasi sudah dilakukan di Riau, Padang, Jateng, Jakarta dan lainnya,” tambahnya.

Sementara untuk sanksi bagi pelanggar, Budi menyebutkan, mulai beberapa bulan lalu sudah lakukan tindakan tegas.

“Tindakan tegasnya sendiri sudah mulai dan saya mengharapkan untuk Palembang segera menjalankan normalisasi. Kami juga sudah ketemu ketua Aprindo dan kita harapkan mereka lakukan normalisasi,” kata dia.

Ia menjelaskan, para pengusaha truk operator dan logistik yang tidak ingin dikenakan saksi harus menormalisasi atau memotong sendiri truk miliknya.

“Jika pengusaha yang tidak lakukan normalisasi truk sampai tahun 2021 terpaksa pihaknya lakukan tindakan hukum pidana melakukan normalisasi akan dikenakan sanksi pidana sesuai pasal 277 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” tukas Budi.

Adapun ancaman hukum bagi pelanggar aturan tersebut yakni satu tahun kurungan atau denda Rp25 juta.

“Blue print penerapan sanksi ini pada tahun 2021. Tapi, kemarin dari 13 logistik terutama semen, kaca, pupuk, baja ringan minta toleransi lagi tapi tetap kita laksanakan hingga 2021,” ujarnya.

Budi menyebutkan, sebetulnya truk dari pabrikan sudah sesuai dengan aturan rancang bangun namun sering dijumpai di jalanan truk yang dimodifikasi sendiri oleh pengusaha.

“Selama ini truk ODOL masih bebas melintas di jalan karena pemerintah hanya menerapkan sanksi denda yang relatif kecil yakni Rp150 ribu bagi pelanggar. Denda ini pun tidak membuat efek jera kepada pelanggarnya,” jelasnya.

“Untuk membuat efek jera kami siapkan pidana denda lebih mahal Rp15 juta butuh berkas sendiri. Tapi nanti kita harapkan di penyeberangan tidak boleh melintas nanti sudah mulai akan mulai banyak menyesuaikan,” tambahnya.

Sementara itu, untuk aturan ODOL menyeberang di pelabuhan seharusnya sudah mulai pada 1 Mei lalu terpaksa diundur karena pandemi Covid-19. “Untuk aturan, sedang dibuat dan akan dilakukan pelarangan. Cukup dengan peraturan Dirjen,” ucapnya.

Adapun pelabuhan yang menjadi prioritas untuk penerapan larangan menyeberang truk ODOL ini yakni pelabuhan Merak – Bakauheni, Ketapang – Gilimanuk, dan Padang Bai – Lembar.

Sementara itu, Wakapolda Sumsel, Rudi Setiawan menambahkan, pihaknya akan mendukung penuh upaya normalisasi berupa sosialisasi sampai penindakan truk yang tidak sesuai ketentuan.

“Hal ini karena dampaknya yang membahayakan pengguna jalan dan pengendara,” tukasnya.

“Pihak kepolisian pun akan melakukan razia semua jenis angkutan yang melebihi batas muatan dan dimensi karena merugikan banyak pihak. Jadi, selain dari sosialisasi, ada sanksi yang juga dipertimbangkan kerugiannya,” kata dia.

“Di Sumsel sekarang ini hampir setiap hari di terjadi kecelakaan, dan kecelakaan tersebut salah satunya karena ODOL,” tandas Rudi. (*)