Dampak Covid-19, Muara Enim Defisit Rp316 Miliar

Plt Bupati Muara Enim menyampaikan penjelasan terhadap APBD perubahan tahun anggaran 2020, Senin (14/09/2020). Foto: ozi/Palpos.ID

MUARA ENIM, PALPOS.ID – Badai pandemi Covid-19 juga berdampak pada keuangan daerah. Buktinya, Pemerintah Kabupaten Muara Enim harus mengalami defisit anggaran sebesar Rp316 miliar.

Defisit anggaran tersebut disampaikan Plt Bupati Muara Enim H Juarsah saat rapat paripurna ke-23 bersama DPRD Muara Enim agenda penyampaian penjelasan nota keuangan Raperda Kabupaten Muara Enim tentang perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah tahun 2020, di Gedung DPRD Muara Enim, Senin (14/09/2020).

Juarsah menyebutkan, wabah Covid-19 memaksa pemerintah melakukan kebijakan rasionalisasi anggaran sehingga berdampak terhadap defisit anggaran pemkab Muara Enim.

Menurutnya, dalam perubahan APBD tahun anggaran 2020, pendapatan daerah Kabupaten Muara Enim Rp2,43 triliun. Sementara belanja daerah bertambah Rp2,75 triun sehingga ada defisit anggaran sebesar Rp316 miliar.

“Defisit ini ditutupi oleh surplus pembiyaan netto sebesar Rp316 miliar, sehingga diperoleh sisa lebih pembiyaan anggaran (silpa) tahun 2020 sebesar nol rupiah,”katanya.

Juarsah mengatakan, pendapatan daerah APBD induk tahun 2020 direncanakan sebesar Rp2,6 triliun. Pada APBD perubahan tahun 2020 mengalami penurunan sebesar Rp215 miliar atau turun 8,11 persen sehingga menjadi Rp2,43 triliun.

Orang nomor satu di Bumi Serasan Sekundang mengungkap selama pandemi juga terdapat penurunan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) sebesar 7,17 persen atau menjadi Rp233 miliar dari diproyeksikan Rp251 miliar.

Pihaknya juga mengikuti arahan menteri dalam negeri nomor 177/kmk.07/2020 tentang percepatan penyesuaian APBD dalam rangka penanganan Covid-19 serta pengamanan daya belu masyarakat.

“Pemerintah melakukan penyesuaian belanja daerah melalui rasionalisasi belanja pegawai, belanja barang/jsa dan belanja modal,” paparnya.

Adapun kebijakan ini, lanjutnya, berdampak terdapat belanja pegawai yang semula dianggarkan Rp15,8 miliar menjadi Rp12,2 miliar. Sementara disisi lain, belanja tak terduga selama pandemi covid-19 melonjak drastis. Yakni semua dianggarkan Rp15 miliar setelah perubahan naik menjadi Rp135 miliar. “Adapun belanja barang dan jasa semula direncanakan Rp875 miliar menjadi Rp765 miliar atau turun 12,63 persen,” jelasnya. (ozi)