LAPORAN KHUSUS: FOKUS PENCEGAHAN, BERI KENYAMANAN

Karikatur. Foto: Koer/Palpos.ID

Waspada Teror Terhadap Ulama

TEROR dan serangan secara fisik terhadap ulama kerab terjadi  sejak 2 tahun terakhir. Terbaru pendakwah sekaligus ulama Syekh Moh Ali Jaber ditikam orang tidak dikenal. Itu terjadi saat Syekh Ali sedang mengisi kajian di Masjid Falahuddin, Tamin, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, Minggu sore (13/09/2020).

Akibatnya ulama kharismatik tersebut, mengalami luka di tangan kanannya hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Sang Pelaku berinisial AA (24) sendiri, kini tengah dalam pemeriksaan pihak kepolisian. Penyerangan terhadap ulama tersebut menambah daftar panjang teror terhadap ulama, sebelumnya  penusukan terhadap Syekh Ali Jaber, penyerangan terhadap ulama juga terjadi di Pekanbaru, Riau. Korbannya adalah Imam Masjid Al Falah Darul Muttaqin. Ia ditusuk oleh jamaahnya menggunakan pisau saat memimpin doa usai salat Isya berjamaah, Kamis malam  (23/07/2020).

Pelaku berinisial IM merupakan salah seorang warga yang sering dirukiah oleh Ustaz Yazid. Pelaku menikam korban sebanyak dua kali. Beruntung, Ustad Yazid Umar Nasution selamat dalam insiden tersebut. Jemaah melihat aksi penikaman tersebut langsung mengejar pelaku. Pelaku juga masih dalam penyelidikan kepolisian.

Selanjutnya, pengurus Persis di Cigondewah, Bandung, Jawa Barat, HR Prawoto meninggal dunia usai dianiaya AM (45) tetangganya sendiri pada awal 2018 lalu. Dari pemeriksaan pelaku mengalami gangguan jiwa. Kemudian seorang pria diduga gila menyerang seorang pengurus Ponpes Karangasem, Lamongan, Jawa Timur, bernama Kiai Hakam Mubarok pada 18 Februari 2018.  Beruntung korban tak mengalami luka serius.

Kemudian seorang pria berinisial MZ (40) mengamuk di Masjid Baitur Rohim, Karangsari, Tuban pada Selasa 13 Februari 2018, Mz mengamuk karena  dilatari kekesalannya tak bisa bertemu dengan kiai yang diyakini bisa menyembuhkan penyakitnya. Tentu saja, peristiwa ini menimbulkan keprihatinan dan kekhawatiran masyarakat khususnya ulama itu sendiri terutama ulama di Sumsel.

Upaya pihak terkait di Sumsel harus dilakukan agar jangan sampai terjadi. Dr M Sadi Is MH, selaku akademisi mengatakan, belakangan ini aksi kriminal terhadap ulama pastinya sangat memancing amarah masyarakat, apalagi kejadian penusukan ulama Syeikh Alai Jaber ini bukan terhitung sebagai aksi kriminal terhadap ulama yang pertama kali terjadi di Indonesia.

“Belum lagi alasan dari oknum yang menjadi pelaku kriminalitas tersebut sudah biasa dipakai oleh pelaku kriminalisasi ulama sebelum-sebelumnya. Pihak kepolisian dan secara hukum, kalau memang yang menjadi pelaku orang gila, maka harus dicek kesehatan jiwa dan dibawa ke psikiater terlebih dahulu,” ujar Dosen Fakultas UIN Raden Fattah Palembang ini.

Menjadikan orang gila sebagai alasan kata Sadi, seringkali digunakan masyarakat karena memang dalam Pasal 44 KUHP berisi kalau memang orang gila maka tidak bisa dihukum. “Tapi kalau hanya dijadikan alasan saja, tetap harus diberi hukuman dengan tegas. Karena jika kejadian seperti ini terus berulang, tentu saja bisa mengganggu kenyamanan beribadah umat beragama, terutama orang Islam,” ucapnya.

Terkait motif, dikatakan Sadi, semua diserahkan ke pihak berwajib, yang bisa saja bekerjasama dengan pihak kedokteran, kesehatan. “Baik gila maupun tidak gila, kejadian ini menjadi PR pemerintah pusat, pun para pemda. Artinya sudah menjadi tugas pemerintah pusat dalam menjamin kenyamanan beribadah warganya. Supaya pemerintah pusat memberikan stastement yang adil, jangan sampai mengecilkan dan menyudutkan orang Islam,” bebernya.

Pemerintah Daerah juga sambung Sadi, harus juga memberikan jaminan keamanan dan bagi masyarakatnya, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat yang ada di daerah harus bekerjasama mewujudkan itu.  “Dan kalau seandainya terjadi lagi, polisi dan masyaratat jangan mudah mengeluarkan statement kalau dia gila, tapi harus ditindak dan diselidiki tentu dengan bukti medis,” ujarnya.

Sementara Menteri Agama Fachrul Razi melalui Kabag Humas Kemenag Sumsel, Saefudin Latief   Msi mengecam tindakan penusukan terhadap Syekh Ali Jaber saat berdakwah di Lampung. Menurutnya, penusukan adalah tindakan kriminal.

Menag kata Saefudin, mengapresiasi langkah cepat aparat menangkap pelaku. Menag minta agar kasus tersebut diusut hingga tuntas. “Percayakan penyelesaian kasus ini pada aparat. Masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi,” ujarnya.

Menurut Menag, dakwah adalah kegiatan positif mencerahkan masyarakat dalam menjalani kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa secara baik, damai, dan didasari semangat kerukunan, keamanan terhadap aktivitas berdakwah Islam rahmatan lil Alamin harus dijamin negara. “Hal ini juga sejalan dengan ikhtiar dan komitmen Kemenag untuk merawat kerukunan umat beragama,” jelasnya.

Terpisah, Satria, selaku Presiden Mahasiswa UIN Raden Fattah Palembang menilai, terkait insiden penusukan terhadap Syek Ali Juber, kemungkinan   ada intrik dari salah satu orang atau kelompok yang benci dengan beliau. Sementara Syarifullah, salah seorang warga Kota Palembang berharap ketika adanya kegiatan apaun yang mendatangkan ulama hendaknya disiapkan juga pengamanan tentu berkoordinasi dengan aparat keamanan sehingga adanya rasa aman bagi para ulama.

“Bagusnya begitu, karena ini penting untuk keselamatan para ulama atau tokoh agama,” tutupnya. Sedangkan Lasmin,  warga Kota  Palembang lainnya mengatakan, jika teror terhadap para ulama dan tokoh agama sudah berulangkali terjadi.

“Oleh sebab itu perlu kemanan ketat ketika para ulama berada ditempat umum untuk memberikan tausiyah atau ceramah. “Artinya diberi keamanan di semua tempat tak hanya di masjid-masjid. Sebab serangan atau teror terhadap ulama sudah semakin kentara sekarang. Jadi mari kita lindungan ulama,” harapnya. (uci/nov/har/oby)

Faktor Tekanan dan Dorongan Orang Lain

KETIKA adanya tindak kejahatan tertentu diakibatkan banyak faktor. Selain alasan gangguan mental namun tentu akan adanya unsur lainnya seperti. Faktor ekonomi, sakit hati, dorongan seseorang atau tertekan.

Seperti yang terjadi pada penyerangan berupa teror dan serangan fisik terhadap tokoh agama dan ulama terjadi sejumlah daerah. “Tentu belum bisa memastikan apa penyebabnya, namun yang jelas bisa juga ada faktor karena desakan yang menyebabkan poelaku nekat melakukan hal itu (menyerang,Red),” terang Kriminolog, Sri Sulastri, Senin (14/09/2020).

Sri menegaskan, hal seperti ini (teror terhadap ulama,Red) biasanya terjadi akibat banyak faktor yang membuatnya sakit hari. “Jika tidak adanya tekanan, tentu adanya rasa kecewa, sakit hati,” jelasnya.

Mengenai faktor ekonomi, dikatakan Sulastri, hal ini perlu adanya penyelidikan lebih lanjut karena biasanya jika ada faktor ekonomi adanya pihak lain yang memang harus diselidiki dan dan ditelusuri aparat kepolisan. (har)

KOMENTAR MEREKA:

Mgs H Syaiful Fadli ST, Anggota F-PKS DPRD Sumsel

Desak UU Perlindungan Ulama

Mgs H Syaiful Fadli ST, Anggota F-PKS DPRD Sumsel

SEBAGAI umai muslim yang juga wakil rakyat, saya sangat prihatin dengan banyaknya serangan baik secara fisik maupun mental, kepada para ulama di negeri ini. Hal ini menunjukan kalau kondisi negara ini sangat memprihatinkan dan ada yang tidak benar.  Karena saat ulama yang merupakan tokoh agama diserang, tetapi pemerintahnya tidak berdaya.

Oleh sebab itu, PKS mendesak pemerintah segera mengesahkan RUU perlindungan kepada para ulama.  Karena para ulama ini tidak hanya wajib untuk dilindungi, tetapi posisinya juga harus ditempatkan diposisi yang semestinya.

RUU perlindungan terhadap ulama ini tiak hanya berlaku untuk umat Islam saja, tetapi berlaku untuk semua tokoh agama yang ada. Hanya saja kita lebih fokus pada ulamanya umat muslim, karena selama ini yang diserang dan sering dipojokkan itu adalah ulama, sementara pendeta, biksu dan lainnya semua aman, tidak pernah ada berinta kalau mereka diserang, dibully dan lainnya.

Tekait pelaku yang disebut sedang gangguan jiwa. Sejak awal saya dan seluruh masyarakat telah memprediksi kalau kasus ini akan berakhnir dengan gangguan jiwa. Karena dimana-mana, termasuk didalam agama Islam, orang gangguan jiwa tidak bisa diadili.

Agar hal ini bukan hanya dijadikan alibi untuk membebaskan pelaku, kami minta agar pelaku diperiksa secara detil baik dirinya pribadi maupun riwayat keluarganya. Karena setiap kali ada penyerangan terhadap ulama, semua pelakunya disebut ganguan jiwa. Ini memang aneh sehingga patut untuk ditelusuri. (opa)

Drs Saim Marhadan, Ketua MUI Palembang

Harus Diusut Tuntas

Drs Saim Marhadan, Ketua MUI Palembang

KEJADIAN ini sangat membuat kita prihatin. Bagaimana tidak guru kita, ulama yang kita panuti tiba-tiba diserang saat sedang berdakwah. Ini suatu tindak kejahatan yang harus diusut dan pelakunya diadili.

Jika memang disebut pelaku ada gangguan jiwa, harus dibuktikan dan dilakukan dengan pemeriksaan khusus. Namun, kalau gangguan jiwa kenapa pelaku seolah memiliki target. Artinya, dia langsung menuju Ustadz Ali Jaber dan menusuk beliau.

Kalau memang gangguan jiwa, kan disitu banyak orang. Kenapa bisa memilih target yang akan diserang jika memang mengalami gangguan jiwa. Saya minta harus diusut tuntas, apa dan siapa pelaku ini. Dan harus dihukum seadil-adinya, supaya ada efek jeranya. (sef)

Suwito Winoto SH MH, Praktisi Hukum

Perlu Adanya Perlindungan

Suwito Winoto SH MH, Praktisi Hukum

SEBELUMNYA kita menyesali atas peristiwa tersebut, hingga ulama kita Syekh Ali Jaber yang ditusuk oleh orang yang tak dikenal, seharusnya pihak-pihak yang mengadakan hajatan ataupun yang mengadakan acara tersebut menyiapkan pengamanan, perlindungan terhadap ulama tersebut, termasuk orang-orang yang berada diacara tersebut (pengunjung) untuk mengamankan semuanya, artinya ada ring la ada batasan-batasan, dan ada penjaga yang tidak terlalu jauh dari ulama tersebut.

Selain itu, kita menyesali perbuatan tersebut, dan itu harus ditindak lanjuti, apalagi ada pemberitaan bahwa pelaku tersebut gila, kalau menurut hukum orang gila tidak bisa dihukum, tapi kita harus teliti, aparat keamanan (polisi)  dalam menyelidiki kasus ini harus aktif dan proaktif, menyelidiki orang gila tersebut, dari keberadaannya, dari keluarganya, tahap-tahapnya hingga sekarang, kedua dokter, dokter yang memeriksanya itu harus diperiksa terus-menerus, kejiwaannya, yang ketiga jika ia mempunyai kartu rumah sakit apa, itu bisa dipertanyakan kepada rumah sakit atau dokter yang menangani orang gila tersebut, apakah memang benar ataukah ia baru dikeluarkan karena mau melakukan tindak kriminal tersebut atau sudah lama.

Apakah ini memang sudah direncanakan atau tidak sengaja, tapi tidak mungkin gak sengaja, orang gila tidak mungkin masuk dalam keramaian tersebut, kalau tidak ada yang memanggilnya, ini kan sudah jelas hajatan, sekarang kan hajatan itu orang-orang tertentu, orang yang didundang, orang yang berpakaian gamis, koko, tapi orang gila itukan memakai kaos. Artinya kan ada apa disitu, harusnya panitia jika sudah melihat orang yang mencurigakan tidak boleh masuk.

Menilik dari kejadian ini, agar tidak terjadi di Sumsel, memang perlunya adanya perlindungan atau keamanan tertentu terhadap ulama atau tokoh agama yang menghadiri kegiatan keagamaan. Artinya di sini harus ada koordinasi yang efektif dari semua pihak terutama keamanan.

Selanjutnya kembali ke kasus itu (penusukan Syek Ali Jaber,Red), berharap aparat kepolisian agar menyelidiki kasus ini hingga tuntas, bila perlu sampai ke persidangan dan mendapatkan balasan yang setimpal. (uci)