LAPORAN KHUSUS: JANGAN SAMPAI DISALAHGUNAKAN

Karikatur. foto: koer/Palpos.ID

Seragam Satpam Dibuat Mirip Polisi

POLRI mengeluarkan keputusan mengubah baju seragam satpam yang akan dibuat mirip dengan seragam polisi. Hal ini tertuang dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 4/2020 tentang Pengamanan Swakarsa.

Selain berwarna coklat, seragam satpam itu juga akan dilengkapi dengan pangkat. Menurut Kapolri Jend Pol Idham Azis,  untuk filosofi seragam satpam yang warna coklat muda untuk baju dan coklat tua untuk celana, dengan makna coklat identik dengan warna tanah atau bumi, kayu, dan batu, yang berarti warna alami.

Kapolri menegaskan, dengan kemiripan seragam satpam dengan polisi, diharapkan dapat menimbulkan kedekatan emosional hingga menumbuhkan kebanggaan.

Selain itu, dengan seragam baru satpam tersebut, sebagai bentuk apresiasi profesi satpam dan juga menambah pergelaran fungsi kepolisian di tengah-tengah masyarakat, sehingga satpam benar-benar dapat lebih professional dalam mengeban tugas dan fungsinya.

Terkait seragam satpam sebelumnya diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007 tentang Sistem Manajemen Pengamanan Organisasi, Perusahaan dan/atau Instansi/Lembaga Pemerintah.

Namun apakah dengan mengubah seragam tersebut, akan berdampak pada professionalisme satpam dan apakah satpam dapat menjaga seragamnya tersebut karena sejumlah pihak mengkhawtirkan baju seragam itu akan disalahgunakan?.

Pengamat Sosial, Drs Bagindo Togar Butar butar mengatakan, sepertinya alasan filosofis maupun empiris keputusan  Kapolri terkait Uniform atau seragam petugas satuan pengamanan (Satpam), dilatarbelkangi fungsi yang sama, yakni sebagai petugas pemberi rasa aman kepada publik serta jumlah tenaga profesi keamanan yang relatif belum sebanding dengan yang kebutuhan plus pertumbuhan populasi manusia.

Perbedaan prinsip lanjutnya, terletak pada posisi lembaga pemberi wewenang yaitu negara dan perusahaan pembinaan pendidikan pengamanan yang izin pengelolaannya diberikan oleh lembaga Polri.

“Juga perlu diperjelas, apakah seragam pakaian dinas harian serta pakaian dinas lapangan, juga mirip atau persis sama seragam.yang dipergunakan oleh kedua institusi usaha sekuritas itu?. Disisi lain, pertanyaan mendasar, mengenai akan potensi penyalahgunaan image yang melekat pada ” kemiripan seragam ” tersebut,” ucap Bagindo.

Disinilah sambumg Bagindo, dituntut peran pengawasan esktra ketat dari Polri yang menaungi seluruh organisasi pengamanan yang beroperasi diberbagai instansi yang menggunakan jasa usaha mereka, terkhusus dalam konteks etika, otoritas dan professionalitas.

Aris Munandar, selaku Akademisi menilai, kemiripan seragam ini juga mempunyai risiko. Risiko pertama adalah penyalahgunaan kewenangan satpam, yang kedua adalah satpam menjadi sasaran dari kelompok yang kerap berbeda kepentingan dengan tugas kepolisian.

“Masyarakat juga akan jadi rancu, mana polisi dan mana satpam. Ini justruk membuat peluang besar untuk ber-alibi. Kalau pun perusahaan punya anggaran lebih, akan lebih baik bila digunakan untuk meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri satpam untuk bertanggung jawab terhadap profesi yang diembannya,” ujar Aris.

Sedangkan Praktisi Hukum, Iwansyah SH menilai kebijakan Kapolri masih bisa diterima. “Karena kalau mau permasalahkan perihal seragam, maka diluar sana kita bisa melihat sendiri bahwa ada banyak Ormas dan LSM memiliki seragam meyerupai atribut aparatur negara,” ujarnya.

Sementara sebagian warga yang ditemui koran ini menilai keputusan Kapolri terkait seragam satpam  dikhawatirkan akan disalahgunakan oknum tidak bertanggung jawab.  “Tentu kita tidak setuju, sulit untuk membedakannya mana yang benar benar polisi mana yang satpam. Ada baiknya tetap sama hingga saat ini,” tegas Dody.

Menurutnya, kesamaan ini juga akan menjadi polemik dikemudian harinya. “Nanti ngaku polisi taunya satpam, dan sebaliknya. Saat ini saja sudah banyak polisi gadungan, apakah tidak khawatir akan bertambah jumlah polisi gadungan,” jelasnya.

Mengenai pangkat, Dody menyatakan hal ini juga perlu dipertimbangkan. “Apakah akan sama dengan lambang pangkat kepolisian?. Tugas kedua isntansi itu jelas berbeda meskipun tujuannya sama menjaga keamanan,” tukasnya. (uci/nov/har)

Sambut Baik, Penyemangat Bekerja Secara Professional

KEPUTUSAN Kapolri, Jenderal Pol Idham Azis yang akan mengganti baju seragam satpam disamakan dengan seragam polisi disambut gembira sejumlah satpam. Seperti Satpam di sejumlah daerah di Sumsel menilai pergantian baju seragam akan memberi pengaruh positif terhadap kinerja mereka.

Seperti diungkapkan Iwan, salah seorang Satpam salah satu bank plat merah di Lubuklinggau. Dirinya selain rasa bangga dengan disamakannya seragam satpam dan polisi, kebijakan itu juga bisa menambah kedekatan emosional antar satpam dan polisi itu sendiri.

“Satpam itukan tugasnya perpanjangan tangan polisi, kalau seragamnya disamakan tentu kita bangga,” ujarnya. Terkait adanya kekhawatiran warga, akan ada oknum satpam yang memanfaatkan seragam tersebut untuk menakut-nakuti warga atau melakukan pelanggaran hukum, menurut Iwan kekhawatiran itu terlalu berlebihan karena meski warna bajunya disamakan tetap saja akan ada perbedaan yang jelas dan sekilas bisa dilihat.

“Meski sama tetap berbeda, baju polisi di depannya ada tulisan polisi, sedangkan satpam tulisannya satpam, jadi gampang sekali dibedakan,” kata Iwan.Tidak hanya itu lanjut Iwan ruang lingkup tugas dan kewenagan satpam juga sangat kecil, hanya sebatas di tempat kerja.  Berbeda dengan polisi yang tugas dan kewenangannya sangat luas. “Satpam hanya ditempat tugas diluar itu sudah tidak ada lagi kewenangannya,” tegasnya.

Senada dikatakan Eko, salah seorang satpam salah satu perusahaan leasing. “Kita tentu senang bila seragamnya disamakan dengan polisi, sehingga saat bertugas kita lebih percaya diri,” ujarnya.

Terpisah, Subhan Security RSUD Sekayu mengatakan,  menyikapi keputusan Kapolri terkait baju seragam Satpam tergantung niat dan tujuan masing- masing.

“Jika niat untuk menyalahgunakan akan terjadinya salahguna mengenai seragam ini. Jika tidak ada niat untuk tujuan kesana insya Allah tdak akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Karena Satpam sebelum terjun ke dunia kerja sudah dibenahi pemikiran positif. Jika pun nanti terjadi hal yg tidak diinginkan itu sudah murni kesalahan dari pribadi masing-masing. Bukan untuk mengatas namakan korps Satpam apalagi seragam yang baru akan disahkan nanti,” ujar Subhan.

Dia berpendapat, sebenarnyo seragam itu identitas, kalau dimanfaatkan untuk bekerja secara profesional menggunakan identitas akan menghasilkan manfaat yang baik terhadap masyarakat dan sering kali disalahgunakan oknum yang tidak bertanggungjawab.

Sementara itu Andre, salah seorang  Satpam SPBU di kota Sekayui dirinya  setujuh kalau seragam setpam dirubah,” Ya  lebih mendekat kan kami dengan kepolisian, kami juga minta arahan dari pihak kepolisian, agar kami tetap menjalan kan tugas dengan baik, ” pungkasnya. (rom/mar)

KOMENTAR MEREKA:

Alfarenzi Panggarbesi, anggota DPRD Sumsel

Harus Gencar Sosialisasi

Alfarenzi Panggarbesi, anggota DPRD Sumsel

SAYA baru dengar informasi tersebut namun bila kebijakan (soal seragam Satpam disamakan dengan seragam polisi1) itu memang benar, maka saya bisa memaklumi kekhawatiran masyarakat, tentang kemungkinan adanya oknum yang menyalahgunakan seragam tersebut.

Oleh sebab itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya berharap, pihak terkait dapat lebih gencar melakukan sosialisasi mengenai seragam itu. Karena saya yakin, seragam itu tidak akan sama persis, pasti ada pembedanya.

Misalnya saja, logo Polri dengan logo satpam pasti beda. Selain itu di kepolisian itu ada lambang kepangkatan yang khusus dan saya yakin juga tidak sama dengan satpam. Jadi walau bentuk dan warna seragamnya sama, tetapi masih banyak juga yang beda, hal inilah yang harus disosialisasikan kepada masyarakat, agar tidak ada kesalahafahaman. (opa)

H Jamak Udin SH, Dirut Pengamanan Anak Bangsa

Dukung Perubahan Seragam

H Jamak Udin SH, Dirut Pengamanan Anak Bangsa

SEBAGAI salah satu perusahaan pengelolah jasa pengamanan, saya sangat mendukung kebijakan Kapolri tersebut. Ya kita sudah tahu. Nanti seragam Satpam akan disertai pangkat dan menjadi warna coklat seperti seragam anggota polisi.

Terkait kekhawatiran warga akan  potensi seragam satpam akan disalahgunakan oknum Satpam dengan mengatasnamakan anggota Polri, menurut saya kemungkinan itu sangat kecil. Karena masyarakat bisa membedakan tugas satpam dan polisi. Selain itu, kita juga akan lebih selektif dan memperketat pengawasan tugas Satpam di lapangan. (zon)

M Haekal Al Haffafah SSos Msos, Pengamat Sosial

Belum Terlalu Urgen

M Haekal Al Haffafah SSos Msos, Pengamat Sosial

SEBELUM lebih jauh, pertanyaan pertama yang harus dihadirkan diawal itu apa urgensinya? tidak ada urgensi yang bisa dijelaskan untuk melihat seberapa relevan Peraturan Kepala Kepolisian Nomor 4/2020 tentang pengamanan swakarsa yang didalamnya terdapat aturan seragam keamanan atau satpam berwarna coklat.

Asumsi yang dibangun oleh Polri untuk menumbuhkan kebanggaan satpam atau memuliakan profesi satpam itu, cukup dengan membuat regulasi mengenai kenaikan gaji, itu jauh lebih tepat.

Yang kedua, peraturan ini justru menimbulkan keresahan ditengah masyarakat, karena masyarakat akan merasa bahwa satpam sama dengan polisi.

Selanjutnya tentu ini akan menambah beban biaya bagi perusahaan ditengah ekonomi sulit saat pandemi.Ketiga, sebaiknya Polri lebih fokus mengurusi profesionalitas internal dibanding membuat wacana baru ditengah ekonomi sulit. (nov)