Sulap Limbah Kulit Jengkol Jadi Pewarna Kain Celup Jumputan

Maruh Julianto saat memamerkan kain jumputan, berbahan pewarna kulit jengkol, di Lokal Pride, Palembang Indah Mal, Lantai 3, Rabu (30/09/2020). Foto Cuci/Palpos.ID

PALEMBANG, PALPOS.ID – Siapa sangka kulit jengkol yang biasanya hanya menjadi sampah dan terbuang, kini bisa menjadi pewarna kain celup jumputan.

Maruh Julianto, salah seorang pemilik UMKM Palembang Sege yang memanfaatkan kulit jengkol sebagai pewarna kain jumputan dan pakaian untuk produknya.

“Biasanya kan kulit jengkol hanya terbuang dan menjadi sampah, lalu kita putar otak, bagaimana kalau kulit jengkol bisa menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis,” terangnya, saat ditemui Rabu (30/09/2020) di Lokal Pride, lantai 3 Palembang Indah Mal.

Maruh mengungkapkan, selain ramah lingkungan, kulit jengkol juga murah dan mudah didapat. “Yah selain itu kan bisa mengurangi limbah juga,” tuturnya.

Ia menjelaskan, untuk pembuatan pewarna sendiri, kulit jengkol direndam di air satu kali 24 jam, 1 Kg bahan baku, 20 liter air didihkan, rebus sampai air menyusut setengah, lalu dinginkan.

“Mulai proses pewarnaan sarung tangan dari karet, disiram dalam ember merata, direndam, dilakukan berulang, peras tiriskan,¬† larutkan kapur, diendapkan hingga jernih, lalu ambil untuk memperkuat warnanya,” bebernya.

Produk ramah lingkungan ini tidak hanya berhasil memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai guna, tetapi juga aman untuk dipakai, karena menggunakan bahan alami, tanpa campuran bahan kimia berbahaya.

Selain kain jumputan, dirinya juga menerapkan pewarnaan ini kepada kaos katun dan jilbab. “Harga yang dijual variatif, kaos bahan katun diwarna dengan air kulit jengkol Rp100 ribu-160 ribu. Sementara jilbab mulai Rp160 ribu sampai Rp190 ribu tergantung ukuran,” tambahnya. (uci)