Pertanyakan Realisasi Kuota Gratis Bagi Pelajar, Minta Belajar Tatap Muka 

Yanti, warga Kota Lubuklinggau. Foto: maryati/Palpos.ID

LUBUKLINGGAU, PALPOS.ID – Sudah sekitar delapan bulan terakhir pelajar di Kota Lubuklinggau sekolah dari rumah atau belajar dalam jaringan (daring).

Sejak saat itu juga secara otomatis orang tua dituntut mengisi paket kuota internet bagi anak mereka, agar bisa mengikuti belajar daring dari rumah.

Belakangan dilaunching paket internet gratis bagi pelajar untuk belajar daring. Namun realisasi program itu justru dipertanyakan orang tua. Pasalnya hingga saat ini, orang tua mengeluh masih harus terus mengisi paket internet bagi anak-anak mereka agar bisa belajar daring.

Seperti dikatakan Yanti (35), warga Kota Lubuklinggau.  Menurutnya hingga saat ini program kuota internet gratis belum dirasakan anak-anaknya.

“Katanya ada program internet gratis, tapi nyatanya kalau tidak beli paket internet anak saya tidak bisa belajar, gak bisa itu ikut namanya daring-daring,” ungkap Yanti.

Kondisi itu dikatakannya tentu saja membuatnya pusing tujuh keliling. Karena mau tak mau harus mengalokasikan dana untuk belanja paket internet bagi kedua anaknya. Belum lagi kreditan Handphone Android anaknya setiap bulan harus dicicil. “Kalau Hp satu, anak suka rebutan, karena masing-masing punya tugas sekolah yang harus dikerjakan,” kata Yanti.

Senada dikatakan Atika (40), ibu rumah tangga yang harus banting tulang membantu suami mencari tambahan biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya.

Menurutnya demi kebutuhan sekolah anak-anaknya, dirinya terpaksa bekerja apa saja untuk membantu suami mencari penghasilan tambahan. Termasuk sebagai asisten rumah tangga dia lakoni. “Anak saya tiga, semua sekolah dan butuh biaya,” ujarnya.

Sementara penghasilan  suami sebagai buruh serabutan, dikatakan Atika, tidak menentu dan tidak mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anaknya. Karena itu dia berharap sekolah tatap muka bisa dilakukan walau hanya 3 kali dalam sepekan.

“Terkadang ada pelajaran yang tidak dimengerti oleh anak-anak, meski sudah buka internet tetap saja butuh penjelasan langsung dari gurunya,” katanya.

Terpisah, Jihan (14), salah satu pelajar SMP Sederajat mengatakan sudah jenuh belajar dari rumah. Karena ada banyak kendala yang dihadapi.

Dia berharap belajar tatap muka meski tidak 100 persen sudah bisa dilakukan. Terlebih sebagai sisw kelas sembilan dirinya juga butuh persiapan untuk bisa melanjutkan sekolah ke sekolah favorit yang dituju.

“Maunya kita belajar di sekolah walaupun hanya 3 hari dalam seminggu, sehingga yang tidak dimengerti bisa ditanya langsung ke gurunya,” kata Jihan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Lubuklinggau Dian Candra, dikonfirmasi Palpos.ID menjelaskan, sekolah tatap muka belum memungkinkan dilaksanakan di Lubuklinggau. Karena Kota Lubuklinggau masih berada di dalam zona merah pandemi Covid-19.

“Kalau persiapan untuk sekolah tatap muka semuanya sudah disiapkan sesuai protokol kesehatan, tetapi sekarang belum bisa dilakukan karena Lubuklinggau masih zona merah,” jelas Dian.

Sedangkan program akses internet gratis bagi pelajar di Lubuklinggau sebagian sudah berjalan. Namun pihaknya masih terus melakukan pendataan.

“Kalau ternyata masih ada yang belum menikmati akses internet gratis, orang tua bisa menanyakan langsung ke pihak sekolah, karena yang mengentri nomor siswa itukan dari sekolah,” pungkasnya. (mar)