Gembong Rampok Sadis Lintas Provinsi Tewas Dihantam Pelor Polisi

Kapolres Muba, AKBP Erlin Tangjaya SH SiK, merilis gembong rampok sadis lintas provinsi yang tewas dalam penyergapan, Kamis (12/11). Foto: romi/Palpos.Id

SEKAYU, Palpos.Id – Seorang gembong rampok lintas provinsi, Adi Supriono (41), warga Desa Gunung Sangkaran, Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung, tewas dihantam timah panas jajarasn Satreskrim Polres Muba, lantaran melakukan perlawanan dengan senjata api rakitan (senpira) saat akan ditangkap.

Tersangka yang dikenal memiliki banyak nama samaran ini, meregang nyawa dalam penyergapan di tempat persembunyiannya Desa Mekar Jadi, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Muba, Rabu (11/11), sekitar pukul 19.00 WIB.

Kapolres Muba, AKBP Erlin Tangjaya SH SiK mengungkapkan, tersangka merupakan gembong kawanan perampok sadis yang telah beraksi di sejumlah wilayah seperti Provinsi Lampung, Provinsi Bengkulu, dan sejumlah daerah dalam Provinsi Sumsel diantaranya, Kabupaten OKU Timur, Kabupaten OKU, Kota Pagaralam, dan Muba.

“Pihak kita mendapat info bahwa ada komplotan rampok  yang akan berasksi di Muba. Mendapat info tersebut, kita melakukan penyelidikan, dan penggerbekkan terhadap tersangka,” ungkap Erlin saat relese di Mapolres Muba, Kamis (12/11).

Dijelaskan Erlin, tersangka  sudah keliling di beberapa daerah dalam Kabupaten Muba dalam melakukan aksi kejahatan, yakni Banyung Lencir, Tungkal Jaya, dan Sungai Lilin. Dalam aksinya, tersangka berbekal senjata Api rakitan untuk melancarkan aksi perampokannya.

“Saat hendak ditangkap, tersangka melawan dan mencoba melarikan diri dari jendela sambil melepaskan tembakkan ke arah anggota. Karena membahayakan, jadi kita ambil tindakkan tegas dan terukur hingga mengenai tubuhnya. Tersangka sempat dibawa ke RS Sungai Lilin, tapi nyawanya tak tertolong,” ujar Erlin seraya menyebut, untuk pelaku lainnya masih dalam pengejaran.

Dari tangan tersangka, Sambung Erlin, polisi mengamankan barang bukti berupa sepucuk senpira laras pendek jenis pistol, satu butir peluru aktif 9mm, dan satu buah selongsong peluru 9mm.

“Tersangka diketahui  sering berpindah tempat dan berganti nama, komplotannya saat beraksi paling banyak 8 orang, dan 3 orang paling sedikit. Adapun cara mereka bekerja dengan cara megedor pintu, lalu masuk ke dalam rumah dan menggasak harta korban,” pungkas Erlin. (omi)