LAPORAN KHUSUS: GURUKU HEBAT, GURUKU PAHLAWANKU

Try Out Akbar yang digelar Palembang Pos dan Palpos.ID awal tahun 2020 lalu. foto: koer/Palpos.id/dok

Jamin Status dan Kesejahteraan

PADA Bulan November setiap tahunnya selain kita memperingati hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, pada bulan yang sama, kita juga memperingati Hari Guru yang jatuh pada pada 25 November. Pahlawan dan guru sebenarnya sama-sama Pahlawan.

Hari Pahlawan yang dimaksud adalah memperingati hari perjuangan para pahlawan untuk memperebutkan kemerdekaan termasuk juga pahlawan yang berjuang dalam pendidikan untuk mencerdaskan bangsa di tengah rongsongan para penjajah, sebut saja Pahlawan Nasional Ki Hajar Dewantara serta sejumlah pahlawan nasional lainnya.

Sedangkan hari guru adalah mengingat jasa dan pengabdian guru yang hingga kini masih sangat relevan dikatakan Pahlawan tanpa tanda jasa. Betapa tidak, karena perjuangan guru yang tujuannya mulia untuk mentransfer Ilmu bahkan juga mendidik para siswanya hingga menjadi orang cerdas, berakhlak hingga dapat mengarungi kehidupan sampai akhirnya menjadi  orang berguna di berbagai bidang.

Namun kenyataannya, semua jasa ilklas sang guru terkadang masih terlupakan begitu saja oleh pihak-pihak yang seharusnya dan memang punya kekuasaan dan wewenang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan tersebut. Penghargaan dalam hal ini, adalah memperhatikan nasib dan meringankan beban kehidupan yang terkadang tertatih-tatih menjalani kehidupan ini.

Hingga sekarang masih banyak guru-guru yang terombang-ambing statusnya, dengan pengabdian sudah berpuluh-puluh tahun namun tak kunjung dihargai dengan pengangkatan statusnya mereka sebagai pengabdi negara (PNS). Mereka terkadang mengadu hingga meminta kejelasan status mereka dan hasilnya lebih banyak tak digubris.

Muhtarom M PdI, selaku akademisi di UIN Raden Fatah Palembang, mengatakan, hari guru harus dimaknai sebagai momentum perjuangan tanpa mengenal menyerah, mengingat. Dimana saat ini tengah berhadapan dengan pandemi yang secara langsung berdampak pada tugas-tugas mulia guru, ditengah krisis kesehatan saat ini guru dengan sepenuh hati berkreativitas sekaligus tetap menunjukan dedikasi yang sangat tinggi, sehingga proses pembelajaran yang dilaukan berlangsug secara optimal.

“Selain itu, melalui momen hari guru, harus terus didorong agar penghasilan dan kesejahtaraan guru harus diperhatikan.  Ini menjadi penting demi fokus guru dalam mengabdi,” jelasnya.

Sementara itu, Siti Sri Rahayu SPd, pemerhati sosial berpendapat, Hari Guru Nasional 2020 memang berbeda, tahun ini kita semua sama-sama dikejutkan dengan masa pandemi covid-19. Semua bidang terkena dampaknya, tidak terkecuali bidang pendidikan. Kegiatan belajar mengajar disekolah terpaksa dirumahkan demi membendung penyebaran covid-19.

“Sekarang ini, semua guru dituntut untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Gagap teknologi, kurangnya sarana prasarana, dan lain sebagainya ikut menghantui para guru-guru untuk memihak ketidakberdayaan dan keputusasaan. Kita semua tentunya tidak nyaman dengan kondisi seperti ini,” ujarnya.

Dalam momen hari guru ini lanjutnya, perlunya menggaris bawahi terkait kesejahteraan guru terutama guru honorer yang sudah lama mengabdi. Guru terutama guru honorer harus dijamin statusnya termasuk juga kesejahteran mereka,” tandas Siti.

Sedangkan Pengamat Pendidikan, Lukman Haris, dalam momen hari guru, dirinya berharap pemerintah untuk merealisasikan P3K itu.  “Ya kalau untuk pengangkatan P3K itu, hampir sama dengan. yang penting dia punya latar belakang pendidikan yang memang seorang guru. Apakah itu guru SD, SMP, SMA,SMK. Yang penting seperti itu. Jadi bisa ikut untuk seleksi P3K,” ucapnya.

Tetapi dirinya juga berharap kepada pemerintah, diutamakan yang mereka itu yang sudah honor.  “Hendaknya guru-guru honorer yang sudah lama dapat diprioritaskan kalau mau ikut tes. Jangan disamakan dengan guru-guru yang baru selesai tamat perguruan tinggi. Jadi usianya sudah 35 keatas lebih diperhatikan. “Saya kira seperti itu, karena mereka sudah lama mengabdi. Dan tidak lama lagi usia mereka memasuki pensiun. Jadi yang usia 35 tahun keatas itu tesnya dibedakan dengan yang umum. Paling tidak grade yang dilainkan. Misalnya  yang umum 70 misalnya, yang honor 60 misalnya. Jadi lebih dipermudah,” tandasnya.

Sementara Dra Nurhayati, selaku pensiunan guru SMP ini mengaku, bahagia jika mengenang pengabdiannya selama 30 tahun lebih menjadi pendidik. Nurhayati sendiri saat ini mengisi masa pensiunnya di rumah bersama anak dan cucu. Ibu enam orang anak ini, kini memang terbatas dalam berkegiatan sejak menderita stroke tiga tahun lalu. Meski begitu, semangat dalam dirinya tidak pernah padam.

Apalagi saat bercerita masa-masa dia mengajar. Nurhayati mengenang bagaimana pelajar di sekitar tahun 80 sampai 90an begitu menghormati guru. Bagi mereka, guru adalah panutan.

“Di sekolah, Gurulah yang menyeragamkan aturan dan disiplin. Jika datang terlambat atau tidak mengerjakan PRakan dihukum. Siswa yang nakal biang ribut di kelas, suka mengganggu di kelas, akan dihukum berdiri dengan satu kaki dan tangan di telinga, duduk di bawah meja hingga pulang, bahkan bisa jadi baru boleh pulang belakangan. Tapi, waktu itu tidak ada orang tua murid yang tersinggung, marah apa lagi sampai melabrak Guru. Orang tua akan legowo, karena bagi mereka di sekolah adalah ruang dimana otoritas adalah Guru. Maka segala aturan dan standar prilaku diserahkan pada Guru untuk menegakknnya,” jelas dia.

Nurhayati menambahkan, setiap Guru mempunyai cara-cara untuk mengatasi keunikan siswanya. Ada dengan cara halus dan juga kasar. “Tapi tidak ada orang tua yang menggugat Guru. Mereka, menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak mereka kepada Guru,” ujar dia.

Lalu bagaimana dengan sekarang? guru nampaknya berada pada posisi sulit, bisa jadi serbasalah. Mereka tidak bisa lagi dengan mudah menjatuhkan hukuman pada siswanya. Bisa-bisa siswa yang dihukum mengadu pada orang tuanya dan guru yang ganti diadukan ke polisi.

“Ini mungkin salah satu problem di dunia pendidikan jaman sekarang. Disatu sisi orang tua seolah-olah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka kepada guru-guru disekolah, tetapi disisi lain ketika ada masalah, anaknya barulah orang tua tidak mau Guru mengambil tindakan. Mudah-mudahan kedepan, hal seperti ini tidak ada lagi. Sehingga, guru bisa melakukan tugasnya dengan leluasa menjadi pengajar dan pendidik,” harapnya. (oby/nov/sef/uci)

Siapkan Insentif Tahun Depan

DALAM momen hari guru yang jatuh 25 November 2020, masih banyak persoalan yang dihadapi guru khususnya guru SMA. Selain soal gaji, kesejahteraan termasuk wabah pandemi yang terjadi hingga guru tidak bisa mentransfer ilmunya ke siswa secara efektif dan efisien, lantaran proses belajar daring.

Menanggapi persoalan ini, Kabid SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Masherdata Musa’i mengatakan, hingga saat ini proses pembelajaran masih sistem pelajaran jarak jauh karena Covid-19.

“Yang jelas tahun depan bakalan akan ada pembelajaran tatap muka,” tandasnya. Terkait kesejahteraan guru dikatakan Masherdata Musa’i  mengatakan, jika itu PNS  tentu sudah memadai dengan adanya tunjngan sertifikasi plus tunjangan lainnya.

Masherdata Musa’i menambahkan, untuk guru honor kembali diserahkan kepada sekolah masing-masing membayar honor sesuai dengasn kemampuan sekolah karena biaya dana bos tidak dibatasi.

“Kalau sekolah mampu membayar honor silahkan. Disamping itu Insya Allah tahun depan akan dirancang tunjangan insentif dari pemerintah provinsi,” tandasnya.

Terkait proses penbelajaran sekarang ini, untuk jarak jauh terlalu lama karena memang perlu berinterakai langsung. “Memang banyak kelemahan dan kendalah makanya tahun depan akan ada pembelajaran tatap muka,” ucapnya.

Terkait pembelajaran tatap muka, pihaknya kata Marhendata menyambut baik tetapi tetap menjaga protokol kesehatan dan sekolah harus menyiapkan tempat cuci tangan, masker, handtainzer tempat pelayanan kesehatan yang menunjang sekolah dan siswa. (rus)

KOMENTAR MEREKA:

Ahmad Zulinto SPd MM, Kadisdik Kota Palembang

Semangat, Jangan Menyerah

H Ahmad Zulinto SPd MM, Kadisdik Kota Palembang

UNTUK semua guru yang mulia, jangan pernah lelah menjadi pelita bagi negeri ini, jadilah selalu patriot pahlawan bangsa.

Terima kasih atas seluruh jasa dan pengabdian yang telah diberikan, semoga ini akan menjadi amal pahala yang akan terus mengalir.

Dengan tema semangat HUT ke-75 PGRI dan HGN tahun 2020 kita tingkatkan Kreatifitas dan Dedikasi masa pandemi Covid-19 ini.

Ayo para guru kita menolak menyerah karena Covid-19, menolak menyerah kepada berbagai keterbatasan yang dihadapi dalam bekerja. (uci)

Madi Apriadi SPd MPd, Akademisi

Belum Mendapat Perhatian

Madi Apriadi SPd MPd, Akademisi

KALAU kita berbicara tentang guru pada saat ini sebenarnya kita harus jujur masih banyak yang harus kita benahi baik secara kompetensi paedagogik, sosial, kepribadian dan profesional yang ada pada diri guru tersebut.

Apalagi sekarang ini seorang guru menghadapi situasi pendemi covid 19 dimana pembelajaran dilakukan secara daring atau jarak jauh, tentu ini memiliki tantangan besar bagi seorang guru, dengan demikian keempat kompetensi tadi sangat menunjang bagi seorang guru dalam menjalan proses pembelajaran secara daring atau jarak jauh.

Kemudian pembelajaran itu jangan hanya menyentuh ranah kognitif saja akan tetapi harus menyentuh ranah akfektif dan psikomotorik sehingga tujuan pembelajaran itu akan tercapai dengan baik.

Harapan kedepan semoga pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan guru pada umumnya dan khususnya guru honorer karena dilapang masih banyak guru honorer yang kesejahteraannya belum terjamin. Semoga saja program pemerintah PPPK (P3K)  memang benar-benar terealisasi sehingga program ini bisa membantu kesejahteraan para guru honorer. (uci)

Alpian Maskoni, Walikota Pagaralam

Nyatakan Tegas Hargai Guru

Alpian Maskoni, Walikota Pagaralam

GURU sebagai ‘aktor’ penting dalam dunia pendidikan, berperan membentuk karakter bangsa. Bertepatan dengan momen Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-75 Tahun, yang jatuh pada 25 November 2020, saya selaku Walikota Pagaralam  mengajak sudah saatnya untuk penegasan penghargaan terhadap guru.

Terkait kesejahteraan para guru, melalui Program Pemerintah Kota Pagaralam, pada tahun 2021 mendatang, Pemkot Pagaralam akan menganggarkan Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk guru honor melalui APBD Kota Pagaralam. Termasuk program kegiatan lainnya untuk kesejahteraan para guru di Kota Pagaralam.

Pemkot Pagaralam mendukung penuh program Kementerian Pendidikan yang akan mengangkat para guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK), tentunya akan berdampak positif terhadap guru honorer di Kota Pagaralam.

Selain itu, kita juga mengapresiasi sebesar-besarnya atas kerja keras jasa pendidik tak kenal lelah untuk terus berupaya membina serta memberikan edukasi kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, meski di tengah keterbatasan dalam menghadapi kondisi pandemi virus corona saat ini.

Perubahan perkembangan zaman di tengah pandemi virus corona, menuntut kita lebih cepat bergerak memanfaatkan teknologi, sekaligus bisa berinovasi dalam memberikan pendidikan terhadap anak didik.

Bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke 75 Tahun, PGRI sebagai naungan para guru harus tetap menjadi wadah bagi para guru untuk memperjuangkan hak dan kewajibannya. Selamat Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke 75 Tahun, Guru sebagai penggerak Indonesia Maju.

Saya juga berharap organisasi PGRI dapat membuat program-program kerja bidang pendidikan yang bisa diadaptasi di Kota Pagaralam, sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Kota Pagaralam. (faj)