Kebutuhan Oksigen untuk Covid-19 Capai 800 Ton per Hari

Ilustrasi Covid-19. (Foto: Reuters)

JAKARTA, PALPOS.ID – Kementerian Perindustrian memastikan, bahwa produksi dan distribusi gas oksigen untuk kebutuhan medis diutamakan, khususnya bagi penanganan pasien Covid-19.

“Suplai oksigen medis masih tersedia. Populasi tabung oksigen di Indonesia saat ini sekitar 1,5-1,8 juta tabung,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Rabu (30/6/2021).

“Gas oksigen untuk kebutuhan industri disalurkan setelah kebutuhan untuk rumah sakit serta fasilitas kesehatan terpenuhi. Sampai saat ini pengaturan keduanya masih terkendali,” sambunnya.

Terkait minimnya stok tabung oksigen beberapa waktu lalu, kata Agus, hal itu lantaran lambatnya perputaran tabung oksigen akibat lonjakan kasus Covid-19.

“Namun, sekitar 70-80% rumah sakit di Pulau Jawa telah memiliki fasilitas Instalasi Regasifikasi Oksigen,” ujarnya.

Agus menjelaskan, sebelumnya rasio peruntukan oksigen bagi keperluan medis dan bagi industri adalah 40:60. Saat ini, rasio penggunaan oksigen menjadi 60:40 antara kebutuhan medis dan kebutuhan industri.

“Suplai oksigen dari industri aman dengan kemampuan pasok sebesar 850 ton/hari, sementara kebutuhan oksigen untuk penanganan Covid-19 sekitar 800 ton/hari. Kami juga mendahulukan kebutuhan pasokan oksigen untuk medis,” terangnya.

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini utilitas rata-rata industri gas oksigen 80% dari kapasitas terpasang sebesar 866.100.000 kg/tahun. Sehingga, masih ada “idle capacity” sekitar 225 juta kg/tahun.

“Apabila ‘idle capacity’ masih belum mencukupi, pasokan gas oksigen untuk industri dapat dialihkan untuk kebutuhan medis,” ucapnya.

Dalam Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), terdapat kurang lebih 104 industri tabung dengan KBLI 25120 yang mampu menghasilkan produk-produk seperti tangki air, pressure vessel, boiler, tabung gas LPG, komponen tabung gas, heat exchanger, silo, kaleng, dan tabung pemadam api.

“Kami mengoptimalkan sumber-sumber yang ada di dalam negeri untuk dapat memperkuat logistik tabung oksigen untuk keperluan saat ini,” tuturnya.

Dengan demikian, kata Agus, untuk menanggulangi terjadinya kelangkaan tabung oksigen, diperlukan sinergi antara Kementerian/Lembaga, terutama untuk menangani pengendalian harga tabung dan pencegahan penimbunan.

“Selain itu, perlu kemudahan dalam mobilitas dan distribusi oksigen cair maupun tabung oksigen dalam bentuk dispensasi dari pembatasan Over Dimension Over Load (ODOL),” jelasnya.

“Kami juga mengharapkan dukungan suplai listrik yang andal dan kontinyu dari PT PLN (Persero) untuk industri gas oksigen, sehingga tidak terjadi pemadaman, kedip, maupun ayunan voltase dan frekuensi,” pungkasnya. (der/fin)