Serangannya Membuat Badanku Syok Berat

Ilustrasi Covid-19. (Foto: Reuters)

##Sebuah Testimoni, Ketika Diriku Diserang Covid-19 Varian Baru (2/tamat)

Oleh: Robbyansyah (Jurnalis)

Namun terlepas dari penanganan tim medis yang memang sudah memenuhi standar, adalah hari-hari yang aku rasakan, semenjak masuk hingga proses penyembuhan.

Terutama, dihari pertama, kedua, ketiga dan keempat. Maksudku, di sini serangan dahsyat covid yang aku alami benar-benar terasa. Dimana pada malam pertama, demamku makin tinggi, persendian makin ngilu, punggung dan persendian belakangku makin terasa layaknya ditusuk-tusuk dengan jarum.

Seolah-olah apa yang aku lakukan  malam itu, jadi serba salah. Karena rasa demam yang begitu tinggi, membuatku badanku seolah-olah mengalami syok berat.

Saat itu, aku hanya bisa berdoa agar kondisiku cepat pulih. Keesokan harinya, aku sudah merasakan seperti terkena diare ringan. Setiap habis makan baik dari sarapan pagi hingga makan malam. Walaupun, aku masih menyentuh makanan sedikit karena masih merasakan mual, namun setiap habis makan, aku pasti ingin buang air (mencret).

Kondisi syok badanku, aku alami dan kurasakan hingga hari ketiga dan keempat perawatan. Namun motivasi tim medis dan tindakan yang mereka lakukan dengan memberikan obat-obatan yang salah satunya obat penurun panas dengan kombinasi vitamin dan obat khusus covid, membuat kondisi tubuhku secara bertahap mulai stabil.

Panasku mulai menurun, seiring dengan itu, nafsu makanmu secara berlahan mulai membaik. Tak hanya itu, rasa ngilu dan pegal di sejumlah persendianku serta batuk-batuk bertahap mulai hilang, walaupun terus terang disisi lain rasa mual tidak mudah untuk cepat dihilangkan.

Satu saran, yang aku ingat yang selalu diberikan tim medis adalah banyak-banyak minum dan memaksakan untuk makan. “Setiap ciri pasien covid itu berbeda-beda tapi satu yang harus kita lawan.. tidak boleh menyerah. Caranya banyak minum dan paksakan untuk tetap makan karena itu adalah tenaga dan itu adalah kuncinya,” ujar salah seorang dokter memotivasi.

Mungkin ini juga yang membuatku terus optimis untuk melewati ini semua plus motivasi dan dorongan teman-teman di sekitar kita agar tetap semangat.

Selama dalam perawatan, yang berlangsung sekitar kurang lebih satu minggu, aku diambil sebanyak 3 kali swab. Itu ditambah dengan rontgen paru-paruku sebanyak tiga kali untuk mengetahui perkembangan sejenis flag putih di paru-paruku.

Hasilnya pada malam 1 juli 2021, mengumumkan hasilnya bahwa flag di paru-paruku sudah hilang dan hasil swabku semuanya negatif. Alhamdulillah, aku bernafas lega. Selanjutnya dokter dan tim medis memperbolehkanku pulang namun tetap isolasi mandiri di rumah selama 14 hari namun aku tetap wajib kontrol selama 3 kali kedepan ke tim medis covid-19.

Dari pengalaman yang aku benar- benar rasakan dan alami sendiri,  semua anjuran Pemerintah petugas medis dan pihak berwenang agar waspada dan hati-hati terhadap covid-19, dengan cara mematuhi protokol kesehatan (Prokes) dengan benar janganlah kita abaikan apapun kondisi kita. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati.

Selanjutnya, ketika kita terkena serangan covid-19, kita tak hanya menderita penyakit layaknya kita terserang penyakit virus secara fisik namun juga menyerang kita secara psikologis (walaupun tingkat dampak dan kekuatan setiap individu berbeda-beda). Semoga pengalaman saya bisa bermanfaat untuk terus menjaga diri dari pandemi dan tetap selalu sehat. (**)

Editor: Bambang Samudera