Tidak Punya Biaya, Ibu Tiga Anak Menahan Rasa Sakit dengan Perut Membesar dan Kaki Bengkak

Ema duduk di rumahnya dengan kondisi perut membesar dan kaki membengkak, Jumat (02/07). Foto: padre/palpos.id

EMPAT LAWANG, PALPOS.ID – Malang nasib ibu tiga anak ini yang harus menahan rasa sakit yang dideritanya selama kurang lebih tiga bulan, lantaran miskin dan tidak mempunyai biaya untuk berobat.

Dia adalah Ema Hertati (34), warga Kelurahan Jaya Loka RT 01/06 Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, yang tinggal bersama ibu bapaknya, beserta ketiga anaknya yang bekerja sebagai buruh lepas dengan menghuni sebuah bangunan dibelakang pemukiman rumah warga.

Ema sebelumnya tinggal di Kabupaten Lahat dengan mengontrak sebuah rumah bersama suaminya. Namun saat dirinya mengalami sakit suami Ema pergi entah kemana. Karena suami tidak mau mengurusinya lagi, sehingga ia berjuang sendiri melawan penyakitnya.

Dengan kondisi semakin hari semakin parah, Ema memutuskan kembali pulang ke rumah orang tuanya di Kecamatan Tebing Tinggi, karena tidak sanggup mengurusi ketiga anaknya, disebabkan penyakit yang dideritanya cukup parah.

Ema divonis menjangkit penyakit jantung oleh salah satu klinik di Kabupaten Kepahyang pada saat dirinya berobat dan suruh untuk rujuk ke Rumah Sakit di Palembang. Namun apalah daya tangan pun tak sampai. Jangankan untuk biaya berobat, untuk makan sehari-hari pun dirinya kesulitan mencari uang.

“Mau bayar pakai apa pak kami, BPJS tidak ada, KIS apalagi,” ucapnya sembari duduk di kursi sambil menahan rasa sakit yang dideritanya, Kamis (01/07).

Suryati, ibu Ema juga mengatakan, anaknya itu sulit untuk tidur dan hanya bisa duduk di atas kursi saja. Serta kondisi tubuhnya pun semakin hari semakin memburuk.

“Cuma duduk di kursi saja, siang malam susah tidur, nafasnya sesak, bisa dilihat perutnya membesar dan kakinya juga membengkak,” ungkap Suryati sambil menggendong anak bungsu Ema yang baru berumur 6 bulan.

Setelah memberitahukan hal ini ke pemerintah setempat (Lurah,red), anaknya (Ema) mendapatkan surat keterangan tidak mampu dari pemerintah yang ditujukan ke Puskesmas Tebing Tinggi agar dapat berobat secara gratis.

Namun Suryati bingung dan masih bertanya-tanya, kalau nanti anaknya dirujuk oleh pihak puskesmas ke rumah sakit, ataupun ke RS di Palembang, apakah tetap gratis dan dirinya juga tidak mempunyai biaya untuk makan minum saat menunggu anaknya dirawat.

“Tadi pak lurah dengan pak rt 02 yang datang memberikan surat ini untuk berobat gratis, besok kami mau membawa anak kami ke puskesmas. Namun saya takut nanti dirujuk ke Palembang, nah apa masih gratis, nanti bayar. Jangan kan mau bayar rumah sakit, biaya untuk menunggu anak saya dirawat saya tidak punya uang,” jelasnya kebingungan.

Dirinya berharap, ada para dermawan yang mau membantu untuk penyembuhan penyakit yang diderita anaknya bisa sembuh. “Kami sangat berharap dan berterima kasih, kalau ada para dermawan yang ingin membantu kesembuhan anak kami,” harapnya.

Sementara Jebri (32), tetangga Ema menjelaskan, penyakit yang diderita tetangganya itu sudah kurang lebih tiga bulan, hanya saja baru-baru ini kondisinya semakin memburuk.

“Ema itu sudah lama sakit, baru kemarin kemarinlah penyakitnya semakin parah. Mungkin sudah tidak tertahan lagi, selain sesak nafas, berjalan pun juga susah, dan perutnya juga membesar, kakinya membengkak, kasihan lihatnya. Apalagi suaminya sudah pergi tidak mau mengurusinya lagi,” kata Jebri.

Kalau dilihat kondisinya saat ini, kalau tidak ditangani dengan cepat besar kemungkinan penyakit dideritanya semakin memburuk. “Bukannya kita mendahului yang maha kuasa, kalau lihat kondisinya sekarang sudah tidak enak dilihat lagi,” tuturnya. (*)

Editor: Bambang Samudera